Bukti Seorang Salafy Bukan Sekedar Tahdzir Hizby

Bukti Seorang Salafy Bukan Sekedar Tahdzir Hizby

Ditulis Oleh:
ABUL FIDA’ HANIF BIN ABUL ABBAS AR-RIAWY

Dibantu Mengedit:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy
وفقه الله تعالى

Darul Hadits Dammaj
Yaman
حرسها الله تعالى


PENGANTAR PENULIS

Segala puji bagi Alloh yang telah berfirman dalam ayatnya:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [Al-Fath : 28].
Sungguh Alloh telah mengutus Rosululloh  dengan petunjuk dan kebenaran tanpa ada keraguan padanya, agar umat manusia mengikuti dan mencontoh apa yang telah diajarkan oleh Rosululloh  kepada umat ini, tanpa harus bersusah payah untuk membuat cara-cara yang baru. Namun sebagian manusia masih juga belum puas sebelum mengikuti hawa nafsunya, walau harus menentang seribu dalil asalkan apa yang dia inginkan dapat terwujudkan. Padahal Alloh telah menyempurnakan agama ini tanpa ada kekurangan sedikitpun. Alloh berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” [Al-Maidah : 3].
Demikian pula Rosululloh , beliau telah mengajarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan syariat ini yang akan memberikan maslahat kepada umat ini, tanpa kita harus memeras fikiran untuk memikirkan maslahat yang kita anggap yang tidak tegak di atas dalil hingga rambut pun berguguran.
قد تركتكم على البيضاء . ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هلك
“Sungguh aku telah meninggalkan kalian atas kejernihan, malamnya seperti siangnya tidak ada yang menyimpang darinya setelahku melainkan binasa”. (HR. Ibnu Majah disohihkan imam Al-Albani).
Jika demikian maka wajib bagi manusia untuk menjadikan Rosululloh  sebagai suri tauladan dalam segala perkara, tanpa harus banyak bicara yang akan mengakibatkan perselisihan dan perpecahan yang mengakibatkan kehancuran. Bukankah Alloh تعالى berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab ; 21].
Lalu apa yang membawa sebagian mereka untuk membuat metode baru dalam syariat ini kalau bukan karena mengikuti rayuan setan terkutuk yang telah merasuk di dalam hatinya. Padahal mereka tahu bahwa metode Rosululloh  sudah mencukupi dan sempurna untuk mewujudkan segala kebaikan untuk umat manusia. Tanpa mereka sadari hari demi hari mereka menjadi semakin jauh dari ajaran Rosululloh , dan hati mereka pun semakin membeku dan membatu, sehingga teguran dan nasehat bahkan Al-qur’an dan hadits pun tak dapat lagi menyejukkan hati mereka, karena tidak mencocoki bahkan bertolak belakang dengan apa yang mereka inginkan, yang telah mereka anggap sebagai kebaikan, padahal mereka pun tahu bahwa sang pembawa dalil telah datang dengan embun yang dapat menyejukkan. Namun hati telah terlanjur membeku akibat penyelisihan yang telah lama bersarang di lubuk hati, atau akibat pergaulan yang telah melekat sehingga nasehat pun menjadi berat. Ini merupakan titik-titik kehancuran seorang hamba jika tidak segera kembali keajaran Rosululloh .
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
” Dan bahwasannya ini adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. yang demikian itu diwasiatkan Allah agar kalian bertakwa”. [Al-An’am : 153].
Berpegang teguh dengan sunnah Rosululloh  adalah kunci keselamatan, lebih-lebih di masa fitnah yang tengah mengobrak-abrik kesatuan umat. Kita hidup di masa yang telah dikatakan Rosululloh  dalam haditsnya:
فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Sesungguhnya barang siapa yang hidup setelahku di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka pegang teguhlah oleh kalian sunnahku dan sunnah khulafa’ al-mahdiyyin ar-rosyidin berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi geraham, dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang baru sesungguhnya semua yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Irbadh bin Sariyah disohihkan imam Al-Albani. ( )
Maka apakah masih berat bagi kita untuk meruju’ kepada Al-Qur’an dan sunnah jika terjadi perselisihan. Dan apakah kita akan terus bertahan di atas kemauan walaupun dalil tidak mendukung?! Lalu kapan kita akan tunduk dan mewujudkan tuntutan dalil-dali tadi. Bukankah Alloh berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. kemudian jika kalian berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ :59].
Ketauilah wahai manusia, sesungguhnya fitnah itu datang hari demi hari semakin samar, hampir-hampir tidak dapat diketahui kecuali bagi orang yang teliti dan koreksi, sehingga banyak orang yang akan terseret dalam fitnah tersebut tanpa sengaja ataupun dengan sengaja, disebabkan kelalaian ataupun sedikitnya pengetahuan, atau bisa jadi disebabkan fanatik ataupun suatu ambisi. Terfitnahlah orang yang terfitnah dan kokohlah orang yang kokoh di atas sunnah.
Dapat kita ambil pelajaran akan kisah yang terjadi dan dialami oleh imam Amad رحمه الله dalam kasus ucapan Jahmiyyah “Al-Quran itu makhluk”. Di awal kali fitnah ini datang dalam keadaan jelas sehingga mudah diketahui kerusakannya, dan orang tidak mudah tertipu dengannya. Namun hari demi hari fitnah ini semakin samar yang dapat menyeret orang yang lalai hingga datanglah kelompok baru yang seakan-akan datang sebagai pahlawan dan penengah dengan membawa bendera tawaqquf tidak mengatakan Al-Qur’an itu makhluk tidak pula bukan makhluk akan tetapi hanya mengtakan Al-Qur’an itu kalamulloh. Kelompok ini dicela oleh para salaf dengan celaan yang keras, lihatlah ucapan syeikhul islam رحمه الله dalam “Majmu’ Fatawa” 12/420-421. Sampai-sampai seseorang mendatangi imam Ahmad dan bertanya tentang bagimana sikapnya jika bertemu dengan orang yang tawaqquf tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu bukan makhluk sedangkan orang orang itu mengucapkan salam kepadanya, apakah dia menjawab salamnya? Beliau pun menjawab “Jangan kamu salam kepadanya, jangan bicarai dia. Bagaimana jadinya manusia mengenal dia jika kamu salam kepadanya? Dan bagaimana dia mengetahui kalau kamu mengingkarinya. Jika kamu tidak mengucapkan salam padanya maka dia mengetahui kehinaan dan mengetahui kalau kamu mengingkarinya dan manusia pun mengetahuinya( )”Kelompok ini dikatakan oleh Ishaq bin Rohawaih رحمه الله : “Barangsiapa mengatakan “aku tidak mengatakan Al-Qur’an bukan makhluk” maka mereka adalah Jahmiyyah”( ), dan dikatakan oleh Utsman bin Abi Syaibah “mereka (komplotan tawaqquf) lebih jelek dari mereka” (yaitu yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk)( ). (Lihat “Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurry halaman 68-69 cetakan Dar Ibnu Hazm, dan lihat “Syarah Usul I’tiqod Ahlu Sunnah karya Al-Lalika’i” bersama tahqiqnya 2/466-475 dan 2/501-507).
Dalam kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa sekedar mengaku Alqur’an itu kalamulloh namun enggan untuk mengatakan “bukan makhluk” hal ini tidak mencukupi dan mereka dihukumi mubtadi’ jika mereka tidak ragu bahwa Al-Qur’an kalamulloh, dan jika mereka ragu maka mereka dihukumi kafir oleh para ulama’, lihat “Syarah Ushul I’tiqod Ahlu Sunnah” 2/466-473 (Al-Maktabah Al-Islamiyyah). Demikian pula halnya orang yang hanya mengaku salafi namun perbuatan menyelisihi maka pengakuannya tidak mencukupi untuk menjadikannya sebagai salafi.
Setelah itu datang lagi fitnah yang baru yang lebih samar dari sebelumya ketika datangnya seseorang yang bernama Abu Ali Husain bin Ali Al-Karobisi ketika ditanya seseorang “Apa yang kamu katakan tentang Al-Qur’an? Dia menjawab “Kalamulloh bukan makhluk” kemudian lelaki itu bertanya lagi “Apa pendapatmu tentang ucapan “lafdzi bil qur’an (ucapanku terhadap Al-Qur’an)?” dia pun menjawab: “Ucapanmu terhadap Al-Qur’an adalah makhluk”. Kemudian penanya tadi bertanya kepada imam Ahmad tentang jawaban Al-Karobisi tadi dan imam Ahmad mengingkarinya dan mengatakan “ini adalah bid’ah”. Kemudian penanya mendatangi Karobisi dan mengkhabarinya tentang pengingkaran imam Ahmad, kemudian dia pun mengatakan “Ucapanmu terhadap Al-Qur’an bukan makhluk” kemudian ucapan ini pun diingkari oleh imam Ahmad dan mengatakan ” ini juga bid’ah!”. Kemudian penanya kembali kepada Karobisi dan mengkhabarinya bahwa imam Ahmad mengingkarinya dan mengatakan ini juga bid’ah, maka Karobisi pun berkata “Apa yang kita perbuat untuk si anak kecil ini (yaitu imam Ahmad), kalau kita bilang makhluk dia bilang bid’ah, kalau kita bilang bukan makhluk dia bilang bid’ah”. Mendengar komentar ini maka marahlah para murid imam Ahmad, sehingga Karobisi dijarah dengan sebab itu( ). Tujuan imam Ahmad dengan pengingkaran ini adalah untuk membantah orang-orang Jahmiyyah.
Lihatlah bagaimana fitnah itu datang dengan berbagai bentuk, semakin hari semakin samar dan menghanyutkan, namun orang yang cermat tidaklah mudah tertipu dengan makar-makar busuk tersebut. Dengan demikian para ulama’ memberi peringatan keras terhadap orang-orang seperti ini. Dapat kita ambil faedah bahwa seseorang yang hanya mengaku mengatakan Al-Qur’an kalamulloh namun masih menyerap sebagian pemikiran Ahlul bida’ maka pengakuan itu hanya dongeng belaka. Maka demikian pula halnya seseorang yang mengaku bermanhaj salaf namun masih juga duduk dengan mubtadi’ maka pengakuan itu hanyalah dongeng belaka karena perbuatannya masih menunjukkan dia berwala’ dengan pelaku bid’ah.

SISI KEMIRIPAN DENGAN FITNAH MAR’I

Demikian juga dengan fitnah mar’i yang kini muncul dan mengobrak-abrik dakwah salafiyyah, di awal kali munculnya fitnah ini keadaannya sangat jelas seperti matahari di siang bolong, para pembelanya memiliki keberanian untuk membela yang batil dan berani terang-terangan untuk menebar fikiran busuknya, sehingga para pengikut mereka memang betul-betul orang yang ingin kebatilan, dan mudah bagi ahlul haq untuk membongkar kedok busuk mereka, sehingga mudah untuk memberi peringatan kepada orang yang haus kebenaran. Dan ahlul haq berjuang sekuat tenaga mereka untuk membela kebenaran tersebut dan menumpas kebatilan mereka.
Namun para hizbiyyin tersebut tidaklah mau kalah demi membela kebatilan, sehingga mereka menggunakan kekuatan tenaga mereka untuk menganiaya orang yang lemah dari para pembawa bendera alhaq setelah mereka tidak mampu untuk membantah hujjah. Akhirnya mumpung ada kesempatan dan kawan-kawannya masih banyak akhirnya mereka cari orang–orang yang lemah di mata mereka dan kemudian mereka menyakitinya, ada yang sekedar diancam dan ada pula yang dikasih tonjokan( ). Begitulah gayanya Ahlul batil mengikuti gaya bos besar yaitu Fir’aun ketika tidak mampu lagi untuk membantah hujjah yang dibawa nabi Musa  yang telah dikisahkan Alloh  dalam ayatnya:
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالمين قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ  قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ  قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ
23. Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”
24. Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.
25. berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”
26. Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”.
27. Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”.
Lihatlah bagaimana gaya orang terlaknat ini ketika tidak mampu membantah hujjah dia mulai memberi talbis kepada para pengikutnya agar kebatilannya tidak terbongkar, kemudian nabi Musa  melanjutkan hujjahnya dan Fir’aun semakin gelagapan dan tidak mampu menghadapi hujjah nabi Musa , mulailah dia menggunakan kekuatan dan kekuasaannya dengan memberi ancaman agar nabi Musa  menghentikan misi yang dia bawa:
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ  قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ 
28. Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”.
29. Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”.
Namu pembawa bendera kebenaran tidaklah kemudian melemah akibat ancaman konyol, akan tetapi semakin kokoh untuk menegakkan hujjah dan bukti kebenaran. Maka mulailah nabi Musa  menunjukkan bukti dan mu’jizat yang dikaruniakan Alloh  kepadanya:
قالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُبِينٍ  قَالَ فَأْتِ بِهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ  فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ  وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ
30. Musa berkata: “Dan Apakah (kamu akan melakukan itu) Kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata ?”
31. Fir’aun berkata: “Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah Termasuk orang-orang yang benar”.
32. Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata.
33. dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), Maka tiba-tiba tangan itu Jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya.
Firaun semakin terbongkar kelemahannya, sedangkan nabi Musa tidak merasa gentar dengan ancaman konyol si terlaknat, akhirnya karena dia takut akan gugurnya kekuasaan yang dia miliki dia pun semakin ingkar dan berusaha mengelabui dan menakut-nakuti para pengikutnya agar tidak mengikuti kebenaran yang dibawa nabi Musa :
قَالَ لِلْمَلَإِ حَوْلَهُ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ  يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ 
34. Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai,
35. ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; Maka karena itu Apakah yang kamu anjurkan?”
Melihat ketegaran nabi Musa  di depan musuhnya, mulailah mereka mencari jalan untuk melemahkan nabi Musa  sekaligus mengelabui manusia agar tidak mengikutinya:
قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيمٍ  فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ  وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلْ أَنْتُمْ مُجْتَمِعُونَ  لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ إِنْ كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ
36. mereka menjawab: “Tundalah (urusan) Dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir),
37. niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu”.
38. lalu dikumpulkan Ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang ma’lum
39. dan dikatakan kepada orang banyak: “Berkumpullah kamu sekalian.
40. semoga kita mengikuti Ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang”
Memang hati Fir’aun telah membatu mengikuti ahli sihir jika mereka menang, kemudian apakah Fir’aun mau mengikuti nabi Musa  jika ahli sihir kalah?! Mari kita simak firman Alloh :
فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ  قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ إِذًا لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ  قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ فَأَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ فَأَلْقَى مُوسَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ 
41. Maka tatkala Ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir’aun: “Apakah Kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika Kami adalah orang-orang yang menang?”
42. Fir’aun menjawab: “Ya, kalau demikian, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)”.
43. berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”.
44. lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, Sesungguhnya Kami benar-benar akan menang”.
45. kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya Maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.”
Pembawa bendera Alhaq pasti tertolong dan kebenaran pasti ditegakkan, lihatlah bagaimana keajaiban pertolongan Alloh  dan Fir’aun pun semakin dipermalukan Alloh  dengan berimannya ahli sihir karena kebenaran yang dibawa nabi Musa :
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ
46. Maka tersungkurlah Ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah),
47. mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
48. (yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.
Lihatlah bagaimana gaya Fir’aun setelah ini:
قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
49. Fir’aun berkata: “Apakah kalian sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya Dia benar-benar pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian Maka kalian nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatan kalian); Sesungguhnya aku akan memotong tangan kalian dan kaki kalian dengan bersilangan dan aku akan menyalib kalian semuanya”.( )
Jika iman telah membasahi lubuk hati yang memberi kesejukan, maka bagaimanapun beratnya rintangan da’i tidak akan mempedulikannya demi mendapatkan keridhoan Alloh :
قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ  إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ 
50. mereka berkata: “tidak ada kemudharatan (bagi kami); Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan Kami,
51. Sesungguhnya Kami Amat menginginkan bahwa Tuhan Kami akan mengampuni kesalahan Kami, karena Kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman”.
Bagaimana pun mereka menyembunyikan makar busuk mereka maka Alloh mengetahuinya, maka Alloh memerintahkan nabi Musa  untuk berangkat dan menyelamatkan kaumnya dengan mengikuti perintah Alloh , sedangkan Fir’aun bagaimana pun pintarnya dia membuat rencana maka dia tidak akan bisa mengetahui rencana Alloh yang mengakibatkan kehancuran Fir’aun dan bala tentaranya. Mari kita simak Firman Alloh  hingga akhir kehancuran Fir’aun:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ  فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ  وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَاذِرُونَ فَأَخْرَجْنَاهُمْ مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ  وَكُنُوزٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِي إِسْرَائِيلَ  فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ  فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ  قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ  وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ  وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ 
52. dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena Sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”.
53. kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota.
54. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil,
55. dan Sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita,
56. dan Sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”.
57. Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air,
58. dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia[1084],
59. Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (Itu) kepada Bani Israil
60. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.
61. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”.
62. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.
63. lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.
64. dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain[1086].
65. dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.
66. dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.”
Demikian pula yang dilakukan oleh para hizbi ‘Adni, tidak mampu mengalahkan hujjah, mereka main premanisme.

MUNCULNYA MANHAJ TAWAQQUF

Di saat fitnah sedang memanas maka muncullah kaum berwajah dua yang mengobarkan bendera tawaqquf, yang kenyataannya tawaqquf ini lebih condong kepada hizbiyyin, karena itu syekh Yahya mengatakan “Para mutawaqqifun lebih dekat/ cenderung kepada kebatilan”. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh beliau, kenyataan yang kita saksikan dari kalangan Indonesia, siapa di antara mereka yang bermanhaj tawaqquf yang tidak cenderung kepada luqmaniyyin?! Di saat itu Syekh Salim Al-Hilali حفظه الله pun mengatakan tawaqquf dalam fitnah adalah bid’ah, maka terpukullah para mutawaqqif tapi mereka tak punya jalan untuk membantah. Berkata imam Al-Ajurri رحمه الله dalam kitabnya “Asy-Syari’ah” hal. 68:
وحدثنا ابن مخلد قال : حدثنا أبو داود قال : سمعت أحمد : وذكر رجلين كانا وقفا في القرآن ، ودعوا إليه فجعل يدعو عليهما وقال لي : هؤلاء فتنة عظيمة ، وجعل يذكرهما بالمكروه قال أبو داود : ورأيت أحمد سلم عليه رجل من أهل بغداد ، ممن وقف فيما بلغني ، فقال له : اغرب ، لا أراك تجيء إلى بابي في كلام غليظ ، ولم يرد عليه السلام وقال له : ما أحوجك أن يصنع بك ما صنع عمر بن الخطاب بصبيغ ودخل بيته ورد الباب
“telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Makhlad, berkata telah mengkhabarkan kepadaku Abu Dawud, berkata aku mendengar Ahmad – dan disebutkan dua lelaki yang tawaqquf dalam Al-Qur’an dan menyeru kepada (madzhab) ini, maka imam Ahmad mendoakan jelek untuk keduanya- dan beliau berkata kepadaku mereka adalah fitnah yang besar dan beliau menyebut keduanya dengan kebencian. Berkata Abu Dawud aku melihat Ahmad disalami oleh seorang lelaki dari Baghdad dari kalangan yang mutawaqqif menurut berita yang sampai kepadaku, maka imam Ahmad berkata kepada lelaki itu : menjauhlah, aku tidak mau melihatmu datang ke pintuku” dengan ucapan yang keras dan beliau tidak menjawab salamnya, dan beliau berkata padanya “Alangkah butuhnya kamu untuk diperbuat seperti yang diperbuat Umar  kepada Subaigh, dan beliau masuk ke rumahnya dan menutup pintunya.”
Demikianlah sikap yang harus kita tegakkan kepada para mutawaqqif dalam fitnah Mar’iy, karena kenyataannya mereka lebih cenderung kepada hizbiyyin.

MUNCULNYA MAKAR SILUMAN HITAM ABU SALMAN

Di tengah-tengah gentingnya fitnah Mar’iy, muncul sesosok makhluk yang berlindung di balik kekuatan luqmaniyyin dengan menampakkan diri sebagai pembela kebenaran. Ini merupakan makar untuk melemahkan ahlul haq, namun Alloh telah berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
”Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” [Ali-Imron ayat: 54]
Awal makhluk yang bertipe ini dalam fitnah Adny adalah Mustofa Abu Salman Al Butoniy siluman hitam, yang mengaku terang-terangan bahwa Abdur-Rohman Adny adalah hizbi dan mengaku tidak membela luqman dan komplotannya, dan kemudian berusaha masuk ke para hurros alias penjaga pondok dengan mempengaruhi mereka bahwa para Tsabitin mereka adalah orang-orang yang suka bikin pecah belah dengan modal ucapannya “Abdur-Rohman Adny adalah hizbi”. Sehingga para hizbiyyin ketika itu terlihat seakan-akan mereka adalah penegak kebenaran sedangkan para tsabitin terlihat seakan-akan sebagai pemecah belah di mata para hurros( ). Ini semua akibat ulahnya si Abu Salman siluman hitam sedangkan dia berlindung di belakang hizbiyyin agar selamat dari hantaman Luqmaniyyin. Dan di Dammaj bertopeng dengan kalimat “Abdur-Rohman Adny hizby” agar terlihat dia sebagai pembela kebenaran. Hingga terbongkarnya kedok luqman dengan celaannya terhadap Syekh Yahya, sehingga terbukalah mata para hurros berikut terbongkarlah sampah busuk siluman, namun tak henti-hentinya dia bikin talbis dengan modal kalimat tadi, namun Alloh tidaklah buta sehingga terbongkarlah kedok busuknya dan setelah sampai di Indonesia diapun menjadi sang penerjemah dauroh Abdulloh Mar’iy, maka terbuktilah perbuatan nifaqnya dan tamatlah riwayat siluman hitam( ).

PEWARIS MAKAR SILUMAN HITAM

Fitnah berdatangan hari-demi hari semakin halus dan mulus, sebagaimana yang telah terjadi di zaman imam Ahmad, demikian pula di zaman ini fitnah Mar’iy semakin datang dengan bentuk yang sangat halus. Setelah perginya para hizbiyyin Indonesia dari markaz Dammaj, mulailah para pengobar bendera makar mengobarkan benderanya yang dilapisi dengan emas, setelah mereka tidak punya pelindung dari kalangan hizbiyyin, terlihat mereka semakin melemah dan tersudutkan, yang sebelumnya mereka berlindung di balik layar hizbiyyin untuk menanti kemenangan, tapi ternyata hizbiyyin semakin dilemahkan Alloh hingga mereka harus kabur dari markaz ilmu. maka bangkitlah Imam Brebes untuk mencari kekuatan, mengumpulkan komplotannya yang terdiri dari beberapa orang di antaranya Ridho dan beberapa orang yang teranggap sebagai pembesar mereka, beranjaklah mereka dengan melangkahkan kaki menuju syekh Yahya untuk protes atas sikap yang mereka dapatkan dari para tsabitin. Setelah berhasil mereka menembus pintu syekh Yahya segeralah mereka mengutarakan keluhan yang selama ini mereka alami, kenapa mereka selalu mendapatkan boikot dan wajah masam padahal selama ini mereka bersama para Tsabitin dalam keyakinan yaitu mereka meyakini Abdur Rohman Mar’iy dan saudaranya adalah hizbi dan luqman juga hizbi, dan mereka/sebagian mereka rela bersumpah atas kebenaran yang mereka ucapkan.
Lihatlah wahai pembaca yang mulia bagaimana pintarnya mereka mengelabui seorang ulama’, menutupi kesalahan hanya sekedar dengan pengakuan yang tidak berarti ini. Sehingga mereka pun menuntut hak mereka dan meminta agar santri Indonesia semua dikumpulkan di depan syekh Yahya. Maka terjadilah pertemuan dan terjadilah diskusi, bercelotehlah Imam, Ridho dan yang lainnya mengutarakan mauqifnya mereka selama ini.
Mereka menganggap bahwa mereka menang dalam ijtima’ ini, tidaklah demikian, karena Alloh yang akan membongkar kedok mereka. Ternyata benar, sesampainya Imam di Indonesia diapaun turun di markas hizbiyyin di Aceh dan mengisi muhadhoroh di sana, maka terbongkarlah kehizbiyannya yang selama ini dia tutupi di depan masyayikh dan dia menampakkan kebaikan di depan para masyayikh.
Dapat kita fahami bahwa ucapan Imam “kami meyakini Abdurrohman hizby mulai awal fitnah” hanyalah dongeng belaka untuk menipu ulama’, bagaimana tidak, karena ucapan ini didustakan oleh perbuatannya. Jika dia meyakini Abdur Rohman hizby dari awal fitnah, maka keharusannya dia tidak berkumpul dengan para hizbiyyin dan tentunya mendukung dan membela para pembela alhaq yang dikumandangkan syekh Yahya. Tapi apa kenyataannya, semenjak dulu dari awal fitnah teman duduknya hanyalah dengan para hizbiyyin dan tidak pernah lepas dari mereka, maka cukuplah ini sebagai bukti akan samanya dia dengan mereka. Rosululloh  telah bersabda:
الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu di atas agama saudaranya maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia temani”. HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari hadits Abu Huroiroh .( )
Maka kami lebih percaya dengan ucapan Rosululloh  daripada alasan Imam: “Aku duduk dengan mereka untuk menasehati mereka”, ini hanya omong kosong, jika ini kau yakini sebagai kaedah yang benar, kenapa baru kali ini kalian terapkan, sementara sururiyyin juga butuh nasehat semenjak dahulu karena banyak juga dari mereka yang bodoh tidak tahu apa-apa, kenapa kalian tidak mau duduk dengan sururiyyin demi menasehati mereka, bahkan kalian dulu meyakini siapa yang duduk dengan sururi maka diapun sururi. Pengekor Abul Hasan juga butuh nasehat kenapa tidak satupun dari kalian yang mau duduk dengan mereka untuk menasehati jika kalian memang orang yang jujur?! Dan siapakah dari kalangan salaf yang memberi keringanan bolehnya duduk dengan ahlul bathil jika tujuannya untuk nasehat?! Tidakkah bisa kalian ambil pelajaran akan kisahnya Imron bin Hitthon yang menikahi wanita khowarij dengan tujuan ingin mengembalikannya kepada sunnah, apa akibatnya? justru Imron yang menjadi khowarij. Renungilah ucapan Ibnu Batthoh رحمه الله dalam kitabnya “Al-Ibanah”:
هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم ، وهو الصادق المصدوق ، فالله الله معشر المسلمين ، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه ، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء ، فيقول : أداخله لأناظره ، أو لأستخرج منه مذهبه ، فإنهم أشد فتنة من الدجال ، وكلامهم ألصق من الجرب ، وأحرق للقلوب من اللهب ، ولقد رأيت جماعة من الناس كانوا يلعنونهم ، ويسبونهم ، فجالسوهم على سبيل الإنكار ، والرد عليهم ، فما زالت بهم المباسطة وخفي المكر ، ودقيق الكفر حتى صبوا إليهم
“Ini adalah ucapan Rosululloh  dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan, maka takutlah kepada Alloh wahai kaum muslimin jangan sampai prasangka baik sebagian kalian terhadap dirinya sendiri menyeretnya, dan jangan sampai apa yang dia ketahui dari pengetahuannya akan benarnya madzhabnya menyeretnya kepada sesuatu yang membahayakan agamanya dengan duduk-duduk dengan para pengekor hawa nafsu ini dan dia mengatakan: “Aku memasukinya untuk mendebatnya dan mengeluarkan madzhabnya darinya”, sesungguhnya mereka lebih berbahaya fitnahnya dari pada dajjal, dan ucapan mereka lebih lengket dari pada kudis, dan lebih membakar hati dari pada nyala api. Dan sungguh aku telah melihat sekumpulan manusia yang mereka dulu melaknat mereka (ahlul ahwa’) dan mencacinya, kemudian mereka duduk-duduk dengan mereka dengan tujuan mengingkari dan membantah mereka, dan senantiasa mubasathoh (bersenang) dengan mereka dan tersembunyi tipu daya dan halusnya kekufuran hingga mereka (ahlul ahwa’) menimpakannya kepada mereka (orang yang mengingkari).”
Bukankah tujuan orang ini ingin memberi nasehat dengan cara membantah dan menjelaskan kesalahan madzhabnya? namun apa akibatnya, justru dialah yang terseret dalam jaringan kudis mereka. Apakah kalian lebih percaya dengan ucapan gombal Imam Brebes ini daripada ucapan Al Imam As Sunniy Ibnu Batthoh?! Lihatlah bagaimana Imam sekarang apakah dia yang menjadi salafi ataukah dia yang terseret kejaringan kudis hizby? Telah kita lihat kenyataannya, padahal Imam dulu bersumpah di depan syekh Yahya, namun yang namanya nifaq tetap saja nifaq, mengaku bersama syekh Yahya dan para tsabitin namun perbuatannya duduk-duduk bersama hizbiyyin mendustakannya, dan tidak sesuainya ucapan dengan perbuatan adalah termasuk nifaq, sebagaiman yang dikatakan oleh Al-Hasan رحمه الله:
كان يقال : النفاق اختلاف السر والعلانية والقول والعمل والمدخل والمخرج وكان يقال : أس النفاق الذي يبنى عليه النفاق : الكذب
” Dan dikatakan : nifaq adalah berselisihnya yang tersembunyi dan yang Nampak dan ucapan dan amalan dan tempat masuk dan tempat keluar, dan dikatakan : pondasinya nifaq yang dibangun nifaq di atasnya adalah dusta.” (Diriwayatkan Al-firyabi رحمه الله dalam ” Sifat Nifaq”, dihasankan oleh syekh Jamil حفظه الله dalam kitab “Fathu Arhamir Rohimin” hal. 39).
Selanjutnya, jika memang Imam adalah orang yang jujur dalam pengakuannya, kenapa ketika luqmaniyyin masih segar dan kuat dia tidak pernah mengutarakan mauqifnya itu di hadapan mereka, dan tidak pernah terdengar dia menyatakan bahwa mereka adalah hizbiyyun, padahal dia mengaku bahwa dirinya satu keyakinan dengan kami dalam fitnah mar’iy mulai awal fitnah?!. Selanjutnya lagi, jika memang Imam orang yang jujur, kenapa ketika sebagian ikhwah tsabitin didzolimi luqmaniyyin dia hanya menonton, tidak membela ikhwah tersebut dan tidak pula mensikapi si zholim, malah dia tetap asyik berlenggak-lenggok dengan mereka?! Setelah luqmaniyyin pada kabur membawa hizbiyyahnya barulah Imam dan komplotannya berkoar-koar “kami bersama syekh Yahya”. Buktikan pengakuan kalian dengan perbuatan, jangan bergaya seperti kaum munafiqin, mengaku tanpa berbuat.
Kepercayaan kami dengan hadits Rosululloh  akan membawa kebaikan, terbuktilah Imam sebagai salah satu dari para hIzbiyyin. Dan kepercayaan kami dengan hadits Rosululloh  membawa kami untuk mensikapi Imam cs berikut para pembelanya sesuai dengan ajaran salaf:
Allalika’i رحمه الله dalam “Syarah Ushul I’tiqod” meriwayatkan dari Fudhoil bin Iyadh رحمه الله berkata:
من جلس مع صاحب بدعة فاحذره
“Barangsiapa yang duduk-duduk dengan pelaku bid’ah, maka berhati-hatilah darinya”( )
Berkata Syeikhul Islam رحمه الله dalam kitab “Majmu’ Fatawa” 35/414:
فإذا كان الرجل مخالطاً في السير لأهل الشر يحذر عنه
“Dan apabila seorang lelaki bergabung dengan pelaku kejelekan dalam perjalanan maka harus hati-hati darinya”
Lalu bagaimana dengan Imam, Ridho berikut para pembuntutnya?, setelah mendengar ucapan Fudhoil dan syeikhul islam ini, apakah masih ada yang menyalahkan sikap kami untuk berhati-hati dari mereka, karena mereka selalu asyik dengan hizbiyyin?!, jika masih ada yang menyalahkan maka apa komentarnya terhadap ucapan dua ulama’ ini? Apakah dia juga akan menyalahkannya? Jika iya, maka siapakah dia berani komentar sedangkan dia tidak faham manhaj salaf?!, jika tidak, maka kenapa dia menyalahkan kami ketika kami amalkan nasehat dua ulama’ ini?! Maka ketahuilah wahai para pembaca dan pendengar bahwa apa yang kami lakukan dari sikap kami memboikot mereka sebagai sikap berhati-hati adalah di atas alhaq, bukan karena hawa nafsu, dan barangsiapa yang menyalahkan maka datangkanlah dalil dan bantahlah ucapan syaikhul islam dan Fudhoil yang telah kami nukil tadi.
Demikian juga dengan Ridho yang telah mengaku seperti pengakuan Imam di depan syekh Yahya حفظه الله, apa buktinya dan bagaimana dia sekarang? Bukankah dia bersama hizbiyyin?! Apakah kalian masih tidak percaya dengan penjelasan kami bahwa mereka itu berhati sakit semenjak dahulu?
Lalu bagaimana dengan yang lainnya yang hingga sekarang ini masih bertahan di Dammaj. Kami menghukuminya secara dzohir, yaitu telah kami lihat dari awal fitnah Mar’iy dia bersama para hizbiyyin, setelah itu dia bersama pasukan Imam, maka kami meyakini bahwa mereka sepemikiran dengan Imam hingga sekarang ini, selama dia tidak berlepas diri dari mereka dan menyatakan kehizbiyyan mereka. Inilah yang dzohir bagi kami walaupun dia menyatakan sebagaimana dia dulu menyatakan bahwa Abdur Rohman hizby, namun perbuatannya tidak bisa diingkari kalau dia itu seperti Imam dalam pengakuannya. Maka kami nyatakan bahwa dirinya adalah makhluk yang berhati sakit( ), hingga dia benar-benar membuktikan baro’nya (berlepas dirinya) dari para virus dan kuman!

PEWARIS MAKAR IMAM BREBES

Setelah kepergian Imam dari markaz Dammaj, muncul sang pewaris makarnya yang pada hakekatnya dia memang dari komplotan Imam dan prajuritnya, namun tidak banyak bicara karena hanya sekedar prajurit. Dialah yang bernama Syarif (Palembang) yang kini juga mengaku sebagai pembela syekh Yahya, berada di barisan Imam Brebes yang maknanya satu pendapat dengannya, yaitu meyakini Abdur Rohman hizby dari awal fitnah. Maka kami katakan: Jika demikian pernyataan Syarif maka itu hanyalah dongeng belaka, dan akan kami sebutkan kisah yang kami alami dengan Syarif sebagai bukti akan dongengnya ini.
Di awal kedatangan Sayrif di Dammaj, fitnah Luqmaniyyun sedang berkecamuk dan mereka memiliki kekuatan otot, sehingga mereka berusaha untuk mengkaburkan masalah ketika tidak mampu melawan hujjah. Syarif ketika itu menyatakan bingung tentang kondisi Abu Taubah, karena dia mendengar dari sebagian tsabitin bahwa Abu Taubah mencela syekh Yahya dan diusir oleh syekh Yahya dari Dammaj, sementara Luqmaniyyun memuji-muji Abu Taubah dan mengkaburkan masalah. Di tengah-tengah kebingungan ini maka diapun mencoba untuk mencari keterangan yang benar, di antara yang dia mintai keterangan tentang hal itu adalah kami (penulis), tiba-tiba dia datang bertamu ke kamar kami bertepatan kamar kami berada di atas kamarnya (tetangga), lalu dia menanyakan tentang kondisi Abu Taubah yang sebenarnya apakah dia itu baik atau jelek, maka kami jelaskan sesuai kenyataan yang kami lihat di Dammaj, lalu dia pun faham dan mengatakan ternyata begitu Abu Taubah (jelek), lalu dia mengeluhkan perkara yang dia alami sewaktu dia masih di Indonesia dan mengatakan: “Makanya kok saya dihalang-halangi ke Dammaj oleh Bukhori( ), ternyata karena Abu Taubah kaya gitu”, tanpa kami mengorek-ngoreknya.
Setelah dia menyatakan pernyataan ini kami mengira dia berhati bersih. Lalu kami sebarlah pernyataan ini sebagi bukti bahwa Bukhori termasuk salah satu dari yang menghalangi ke Dammaj, tiba-tiba Syarif berusaha untuk membalik fakta di hadapan Ali Klaten( ). Maka Ali pun mendatangi Dzakwan dan menegurnya bahwa Syarif bilang dia tidak ada mengatakan Bukhori menghalangi ke Dammaj. Ini pengakuan Ali di hadapan Dzakwan, sementara kami mendengar dengan telinga kami dia bilang begitu, dan kami siap mubahalah jika Syarif mengingkari. Mendengar hal ini maka Dzakwan pun mendatangi kami dan menanyakan tentang kebenaran hal itu, dan kami katakan: “Iya benar dia sendiri yang bilang begitu tanpa ana tanya-tanya.” Tidak lama kemudian, ketika kami turun dari kamar kami, Syarif pun memanggil kami ke kamarnya, maka kami pun masuk, lalu dia mengatakan: “Ana minta tolong, ana jangan diikut-ikutkan masalah ini”, lalu kami menjawab: “Kami tidak mengikut-ikutkan antum, cuma kami jadikan ini sebagai bukti akan kebenaran kami bahwa banyak dari ustadz Indonesia yang menghalang-halangi ke Dammaj, tapi ternyata para saksi pada mundur ketika dibutuhkan, akhirnya kami dituduh pendusta, ketika kami mendengar pernyataan antum, kami senang karena ini sebagai bukti akan kejujuran kami. Dan kami tidak mengikut-ikutkan antum, tapi kalau antum kemudian mundur lagi maka kami lagi yang dituduh dusta”. Lalu dia mengatakan: “Iya tapi janganlah ana diikut-ikutkan”. Setelah ini maka kami tahu bahwa Syarif pengecut takut kena hantaman Luqmany, atau mungkin dia berpihak kepada Luqmaniyyin. Kami yakin dua sebab ini semua ada pada dirinya karena kenyataannya dia berada di barisan mereka. Kemudian kalau dia mengaku bahwa dirinya meyakini sebagaimana keyakinan para tsabitin dari awal fitnah, apakah masih ada yang mau percaya padanya setelah keterangan kami tadi?! Tentu saja ini semua hanyalah dongeng. Dan jika dia mengatakan bahwa dia dulu luqmani dan sekarang tidak lagi, maka kami tanyakan mana pernyataan tobatnya atas tingkah lakunya yang lalu, dan kenapa tidak menyatakan pernyataan ini ketika ijtima’ di depan syekh Yahya?! Malah dia diam di barisan Imam yang menunjukkan dia seperti Imam dari awal fitnah!, maka sangat lucu jika ada yang komentar bahwa Syarif sekarang sudah bagus mauqifnya,kami menganggap orang seperti ini adalah orang yang lalai( ), apakah dia tidak melihat hari-harinya Syarif bersama para mardho, apakah dia pura-pura buta? Lalu bagaimana komentarnya sekarang ini setelah terbukti Syarif bersama Bukhori dan Abu Taubah, apakah dia masih juga mengatakan Syarif bagus. Janganlah kalian tertipu dengan slogan si Syarif: “Aku kembali ke pondok Bukhori untuk menasehatinya”. Mereka saling mewarisi embel-embel ini untuk menyelamatkan diri dari kritikan dan untuk menipu orang-orang yang lalai. Kalau memang kamu jujur wahai Syarif kenapa kamu tidak ke sururiyyin untuk menasehati? Dan ucapan kamu Bukhori sekarang sudah faham fitnah, apa yang kamu maksud dengan kalimat sudah faham? karena fahamnya mereka adalah Abdur Rohman Al Adniy itu salafi( ). Apakah ini yang kamu maksud? Ataukah yang kamu maksud dia faham bahwa Abdur Rohman dan luqmaniyyin hizbiyyun, jika ini yang kamu maksud maka mana buktinya setelah dulu kamu menyatakan bahwa Bukhori menghalangi ke Dammaj.
Tidak ada ulama’ salaf yang mau berteman dengan hizbiyyin ahlul bida’ sebelum mereka bertobat( ). setelah bertobatpun mereka hati-hati, kalau memang terlihat bukti kejujurannya dalam bertobat baru mereka terima. Adapun kamu –wahai Syarif- mau jadi pahlawan, maka hadits Rosululloh  dan kalam ulama’ lebih kami percaya dari pada gombalnya Syarif. Dan ucapannya “Aku sudah hajr Abu Taubah”, ini hanyalah dongeng dan permainan ketoprak, bagaimana tidak, sedangkan dia tetap berada di sana, jika kamu benar-benar menghajr Abu Taubah maka tidak mungkin kamu sanggup tinggal bersamanya dan pasti terjadi bentrok. Paling-paling kamu hanya tamayyu’ sebagaimana perbuatanmu di Dammaj. Maka keberadaanmu bersama mereka sudah cukup menjadi bukti akan sakitnya hatimu.
Ketahuilah wahai ahlu sunnah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang menanti-nanti kemenangan, baru kemudian mereka ikut terjun. Di awal fitnah terlihat luqmaniyyun merdeka, mereka pun berada di barisan luqmaniyyun, ketika luqmaniyyun bangkrut dan kabur dan terlihat para tsabitin telah menang dalam arena tanding, maka merekapun mulai mengaku-ngaku bersama syekh Yahya حفظه الله. ( ) Gombal dan gombal!!! Tidak ada tamayyu’ dalam agama ini, sikap kalian seperti ini adalah seperti sikapnya kaum munafiqin di zaman Rosululloh , jika kaum mu’minin menang –dan pasti menang- mereka mengaku-ngaku bersama kaum mu’minin, sebagaimana Alloh  berfirman:
الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

” (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada diri kalian (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagi kalian kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah Kami (turut berperang) beserta kalian ?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah Kami turut memenangkan kalian dan membela kalian dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kalian di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”. [An-Nisa’ : 141]

YASIRUDDIN ABU HAMMAM BIKIN HEBOH

Setelah para pembuat makar tadi berjatuhan, muncul lagi makhluk yang lebih menghanyutkan fitnahnya dan lebih halus dan mulus. Dialah Yasiruddin alias Abu Hammam yang telah meniti jejak Abu Salman dalam fitnah ini. Sungguh orang ini telah menipu banyak orang di Indonesia dengan gaya sang pembela alhaq.
Kami akan menguraikan secara ringkas gelagat orang ini ketika di Dammaj. Dahulu Yasiruddin adalah salah satu dari murid Abu Ma’sud di Gresik, kemudian dia kabur mengekori Ja’far panglima khowarij. Kemudian Alloh memudahkannya ke Dammaj dan sesampainya di Dammaj baru dia mengakui akan kesalahan Ja’far dan Abu Mas’udlah yang di pihak benar. Ketika terjadi fitnah Mar’iy Yasiruddin terlihat santai seperti orang tak peduli( ), namun teman sehariannya hanyalah dengan para maftunin, dengan itu tahulah kami bahwa Yasiruddin termasuk dari salah satu maftunin yang berlagak sebagai pembela Alhaq( ). Ketika dia masih di Dammaj tidak ada yang terkecoh dengannya kecuali para maftun juga walaupun dia berkoar-koar membantah Luqman, karena terlihat sehari-hari dia hanya berteman dengan orang-orang yang sakit hatinya, maka para tsabitin dapat membaca akan makarnya Yasiruddin dan dia tidak mampu menipu mereka. Dahulu dia pernah menyatakan pada Abu Mas’ud bahwa dia memiliki bantahan terhadap luqman dalam beberapa kaset, ketika Abu Mas’ud meminta kaset itu dia tidak mampu mendatangkannya, karena ternyata bantahan itu tidak ada, hanya omong kosong, Begitulah Yasiruddin hingga Abu Mas’ud mengatakan “apa yang keluar dari mulutnya sama dengan yang keluar dari lobang pantatnya”, yaitu sebagaimana halnya kentut, bunyinya besar tapi kosong tak berisi yang kemudian sirna bersama hembusan angin. Demikianlah Yasiruddin, bicara besar tapi hanya omong kosong tak ada bukti. Demikian pula dalam pengakuannya bahwa dia menyatakan Abdur Rohman Al ‘Adniy dan juga Luqman Al Jambariy adalah Hizby, ini sebagaimana halnya Imam dan komplotannya, bagaimana tidak, sedangkan teman duduknya hanyalah orang maftun? Sempat terjadi dialog antara kami (penulis) dan Yasiruddin), kemudian kami menuntutnya agar dia jelas dalam mauqif, dia menjawab: “Ana di atas alhaq insyaalloh, dan ana siap dibawa ke syekh Yahya”, lalu kami katakan: “Kalau antum di atas alhaq kenapa antum duduk-duduk dengan orang maridh (hati sakit)? jika hanya berani dibawa kesyekh Yahya,maka sudah cukup kasusnya Abu Salman jadi contoh” (yaitu banyak dari kalangan Indonesia yang berpura-pura baik di depan syekh Yahya salah satunya Abu Salman). Yasiruddin tidak mampu menjawab dan dia hanya mengatakan: “Ana di atas alhaq”( ) kemudian dia permisi pergi karena tidak mampu lagi menjawab pertanyaan dan tuntutan. Maka apakah orang seperti ini dikatakan bagus mauqifnya? Tidaklah menyatakan demikian melainkan orang yang lalai dan lemah.
Imam cs dan Syarif adalah komplotannya, jika kalian telah tahu kondisi Imam maka seharusnya kalian tahu kondisi Yasiruddin( ), karena mereka satu komplotan pembuat makar. Tapi ternyata Yasiruddin betul-betul mempesona sehingga bisa menipu sebagian da’i yang ada di Indonesia hanya dengan kalimat: “Luqman hizby, Abdur Rohman hizby, dan saya tidak akan bertemu dengan Luqman selama-lamanya.” Yang lebih menipu lagi karena dia ternyata memang tidak mau turun di markaz mereka, berbeda dengan Imam dan Syarif, karena makar mereka berdua terbongkar dengan turunnya mereka di markaz hizby. Adapun Yasiruddin ternyata caranya lebih halus lagi. ( )
Kami menuntut kepada Yasiruddin jika memang dia orang yang jujur agar dia menyatakan tobatnya dari tingkah lakunya yang telah lalu, dan berlepas diri dari komplotan Imam cs, jika tidak maka kami tetap menghukuminya sebagaimana dia di Dammaj selama delapan tahun hanya berteman dengan para maftunin, maka dia maftun.
Kami lebih percaya dengan hadits Abu Huroiroh daripada tazkiyah sebagian para da’i, dan kami lebih percaya dengan nasehat Fudhoil dan syeikhul islam dari pada gombalan Yasiruddin, lebih-lebih syekh Abu Amr telah menyatakan bahwa Yasiruddin berwajah dua.
Adapun jika kalian menentang dengan alasan: “Kita hukumi seseorang itu sesuai dzohirnya” Maka kami katakan: apa yang kalian inginkan dengan lafadz dzohir, karena lafadz ini mujmal mengandung banyak kemungkinan? Apakah yang yang kalian maksud dengan lafadz dzohir hanyalah dzohirnya lisan saja, tanpa melihat dzohirnya perbuatan? Berarti kalian telah mengambil satu dalil dan meninggalkan dalil yang lain, lalu bagaimana jika dzohir lisan bertentangan dengan dzohir perbuatan( ), apakah hanya dzohirnya lisan saja yang kalian anggap dan dzohir perbuatan tidak berguna? jika demikian siapa dari kalangan salaf yang mengajarkan demikian. Renungilah hadits Usamah bin Zaid  :
يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحى فيجتمع إليه أهل النار فيقولون يا فلان مالك ؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر ؟ فيقول بلى قد كنت آمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وآتيه
“Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam neraka maka keluarlah usus perutnya, kemudian dia berputar-putar dengannya sebagaimana himar berputar-putar di penggilingan, kemudian penduduk neraka mengerumuninya dan mereka mengatakan: wahai fulan ada apa denganmu? Bukankah kamu dulu menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar? Dia menjawab : tentu saja sungguh aku dahulu menyuruh kapada kebaikan dan aku tidak melakukannya dan aku melarang dari kemungkaran dan aku melakukannya.” Muttafaqun alaih.
Apa komentar kalian dengan lelaki ini? Apakah kalian akan mengatakan dzohirnya lelaki ini baik karena dia menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar? Kemudian kalian tidak mengambil hukum dari perbuatannya yang tidak melakukan kebaikan dan melakukan kemungkaran? Bukankah hadits ini mengajarkan agar kita juga mengambil dzohirnya perbuatan?! Justru hadits ini menunjukkan bahwa dzohirnya perbuatan itu lebih kuat dari pada dzohirnya lisan, karena Alloh  telah mengadzabnya sebab perbuatannya walaupun dzohir lisannya menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada kemungkaran.
Demikian pula amalan sohabat mereka menghukumi seseorang dengan dzohir perbuatannya dan teman duduknya sebagaimana dalam hadits Itban  yang panjang dan padanya terdapat :
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مَا فَعَلَ مَالِكٌ لَا أَرَاهُ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ ذَاكَ مُنَافِقٌ لَا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُلْ ذَاكَ أَلَا تَرَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ أَمَّا نَحْنُ فَوَاللَّهِ لَا نَرَى وُدَّهُ وَلَا حَدِيثَهُ إِلَّا إِلَى الْمُنَافِقِينَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Berkata seorang lelaki dari mereka: “Apa yang dilakukan Malik (bin Dukhsyun) aku tidak melihatnya” maka seorang lelaki dari mereka menjawab ” dia itu munafiq tidak mencintai Alloh dan Rosulnya”, maka bersabda Rosululloh  : “Jangan kamu katakan begitu bukankah kamu lihat dia mengucapkan la ilaha illalloh mencari wajah Alloh dengannya?” lelaki itu menjawab ” Alloh dan Rosulnya yang lebih tahu, adapun kami demi Alloh tidaklah kami melihat persahabatannya dan ngobrolnya kecuali hanya kepada kaum munafiqin” berkata Rosululloh : “Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan La ilaha illalloh mencari wajah Alloh dengannya.” [ HR. Bukhori]
Lihatlah bagaimana sahabat ini berhujjah, beliau menghukumi Malik bin Dukhsyun munafiq dengan melihat teman duduknya, dan Rosululloh tidak mengingkari hujjahnya. Adapun Rosululloh melarangnya untuk menghukuminya munafiq ini sebelum beliau mendengarkan alasannya sahabat tadi, dan setelah sahabat tadi menyampaikan alasannya, Rosululloh  tidak mengingkarinya. ( )
Jika masih merasa kurang jelas, maka renungilah perkataan Umar  :
إِنَّ أُنَاسًا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالْوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الْآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وَقَرَّبْنَاهُ وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا سُوءًا لَمْ نَأْمَنْهُ وَلَمْ نُصَدِّقْهُ وَإِنْ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya manusia dahulu dihukumi dengan wahyu di zaman Rosululloh  dan sesungguhnya wahyu telah terputus, dan hanya saja kami menghukumi kalian sekarang ini dengan apa yang dzohir pada kami dari amalan kalian, barang siapa yang menampakkan kebaikan kepada kami maka kami percaya dia dan kami dekatkan dia, dan tidak kepada kami rahasianya sedikitpun, Alloh lah yang menghisabnya akan rahasianya Dan barangsiapa menampakkan kepada kami kejelekan maka kami tidak percaya dengannya dan tidak membenarkannya, walaupun dia mengatakan sesungguhnya yang dia sembunyikan adalah baik.” [Bukhori].
Umar menghukumi baik dan buruknya adalah dengan apa yang dzohir dari perbuatannya, walaupun dzohir lisannya mengaku-ngaku baik, menunjukkan bahwa dzohir perbuatan itu lebih kuat dari pada dzohir lisan.
Jika ada yang berkata: “Rosululloh  menghukumi kaum munafiqin dengan dzohirnya lisan, makanya Rosululloh  tidak membunuh mereka karena dzohir lisan mereka mengucapkan syahadat padahal mereka kafir”. Maka jawab kami :
Yang pertama: sungguh hina kalian ini, ingin menyamakan diri kalian seperti kaum munafiqin supaya kalian tidak diboikot sebagaimana kaum munafiqin.
Yang kedua : bukankah kalian tahu bahwa Rosululloh  tidak membunuh mereka dikarenakan sebab tertentu?! Sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah :
فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
“Berkata Umar: “Biarkanlah aku wahai Rosululloh untuk memenggal lehernya si munafiq ini (Abdulloh bin Ubai bin Salul), maka Rosululloh  bersabda: “Biarkan dia jangan sampai manusia bercerita bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya”. Muttafaqun alaih.
Rosululloh  membiarkan munafiq ini karena suatu maslahat yang besar, supaya Rosululloh  tidak dikatakan membunuh para sahabatnya, sehingga orang akan takut masuk islam karena nanti akan dibunuh sebagaimana orang yang dibunuh.( ) Bukan Rosululloh  tidak menghukumi dia itu munafiq, Rosululloh  tetap menghukumi mereka munafiq walaupun dzohir lisan mereka mengucapkan syahadat, akan tetapi perbuatan mereka semua menunjukkan kekufuran mereka. Bukankah Alloh  telah menyebutkan ciri-ciri mereka dengan perbuatan mereka yang bisa dijadikan dalil akan nifaqnya mereka walaupun dzohirnya lisan mengaku muslim. Di antara ciri-ciri dari perbuatan mereka adalah yang disebutkan Alloh :
1.Pintarnya mereka bersilat lidah:
وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ
“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.” [QR .Muhammad : 30] ( )
2. Malas melakukan ketaatan:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
3.Berpaling dari ketaatan :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
”apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.[ QS. An-Nisa, : 61].
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
“dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu Lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.[ QS: Al-Munafiqun : 5]
4. Suka mengolok-olok kaum mu’minin:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.”QS. Al-Baqoroh : 14.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”[ QS: At-Taubah : 65].
Kalau memang dzohirnya lisan saja yang dianggap, sedangkan dzohirnya perbuatan tidak, maka apa gunanya Alloh menyebutkan ciri-ciri dari perbuatan mereka? Dari sini maka kita ketahui bahwa dzohirnya perbuatan itu lebih didahulukan dari pada dzohirnya lisan.
Dengan demikian maka dapat kita ketahui bahwa Imam, Ridho, Syarif dan Abu Hammam mereka adalah virus yang membawa wabah, dan tugas kita adalah mensikapi mereka sebagaimana nasehatnya imam Al-Barbahari رحمه الله dalam Syarhus Sunnah :
وإذا رأيت الرجل يجلس مع أهل الأهواء فاحذره واعرفه فإن جلس معه بعدما علم فاتقه فإنه صاحب هوى
“Dan jika kamu melihat seseorang duduk-duduk dengan pengekor hawa nafsu, maka hati-hatilah kamu dengannya dan kenalkan (jelaskan kondisi) dia, dan apabila dia tetap duduk bersamanya setelah dia mengetahui maka lindungilah kamu dari dia sesungguhnya dia itu adalah sohibu hawa.”
Bukankah komplotan virus ini tetap duduk bersama kuman setelah adanya bayan?!!
Maka sangat lucu jika ada yang berkomentar bahwasanya orang-orang yang memperingatkan dari komplotan ini adalah mutasyaddid. Pada hakekatnya kalimat ini adalah kalimat yang biasa digunakan oleh para sururiyyin ketika tidak mampu lagi melawan hujjah.
Ketahuilah wahai ahlu sunnah sesungguhnya “BUKTI SEORANG SALAFI BUKAN SEKEDAR TAHDZIR HIZBY”, akan tetapi salafi adalah orang-orang yang benar-benar meniti manhaj salaf. Kalau hanya sekedar tahdzir hizby sudah dikatakan salafy, maka Luqmaniyyun semua salafy karena mereka juga mentahdzir sururiyyin, demikian juga sururiyyun mereka semua salafy karena mereka juga tahdzir jaringan mujahidin dan semisalnya, demikian juga jaringan Al-Qo’idah mereka juga salafy karena mereka tahdzir Rofidhoh, demikian juga Rofidhoh mereka juga salafy karena mereka tahdzir jaringan Al-Qo’idah dan seterusnya. lalu siapa yang mubtadi’ kalau demikian? ( ) Lalu bagaimana kalian menganggap Abu Hammam bagus hanya karena dia tahdzir Luqman, sementara di Dammaj selama delapan tahun duduknya hanya dengan para mardho. Bukankah para ulama’ salaf telah memperingatkan bahwa orang yang bertipe ini adalah sohibu hawa?!!
Bangunlah wahai salafiyyin dan kokohlah kalian jangan kalian tergoyang hanya karena embel-embel butut yang dibawa Yasiruddin: “Abdur Rohman hizby, dan dia tidak akan ketemu Luqman Abadan!”.
Bukankah telah kami katakan bahwa bukti seorang salafi bukan sekedar tahdzir hizby, bukankah Luqman juga mentahdzir Abul Hasan?! Apakah dengan itu kalian katakan Luqman salafy? Jika kalian mengatakan karena Luqman membela hizby, maka kami katakan, lalu bagaimana dengan Bukhori kenapa kalian tinggalkan dia padahal tidak terdengar dia membela Abdur Rohman, tentu karena wala’nya terhadap hizbiyyin, kalau demikian kenapa kalian terima Yasiruddin padahal selama di Dammaj dia juga wala’nya terhadap hizbiyyin!!
Adapun ucapannya dia tidak akan ketemu Luqman Abadan (selamanya), apakah dengan kalimat ini kalian menganggap Yasiruddin bagus? Apakah tidak maunya seseorang duduk dengan seorang hizby akan tetapi dia duduk dengan hizbiyyin yang lain itu sudah dikatakan bagus? Lalu bagaimana dengan Abu Nida’, dia juga tidak mau ketemu Luqman apakah mau kalian katakan bagus juga. Jika kalian menjawab “Abu Nida’ wala’nya dengan sururiyyin Turotsiyyin”, maka demikian juga dengan Yasiruddin wala’nya dengan hizbiyyin, kenapa tidak kalian hukumi sebagaimana kalian hukumi Abu Nida’? Jika kalian juga menghukumi Abu Nida’ Surury karena wala’nya dia dengan sururiyyin, maka demikian juga kami katakan Yasiruddin juga virus karena wala’nya dengan para kuman. ( )
Selanjutnya anggapan Yasiruddin bahwasanya: “Nasihat tidak cukup dengan tersebarnya malzamah, iqomatul hujjah tidak qowy, status mereka dikatakan sunny maftun” makanya Ridhwan, Mahmud dan Sanen (Luqmaniyyun tulen) dia anggap sunny maftun. Sungguh anggapan ini semakin membongkar virusnya, kalau memang nasehat itu tidak cukup dengan tulisan, lalu apa yang akan kamu katakan tentang surat Rosululloh  kepada Hiroqles, apakah akan kamu katakan tidak cukup, dan apakah akan kamu katakan Rosululloh  tidak qowi dalam menegakkan hujjah?! Dari mana kamu dapat semua ini?( ) Mana dalilnya iqomatul hujjah tidak cukup lewat tulisan? Lalu apa gunanya ulama’ membuat tulisan berupa rudud dan semisalnya kalau memang itu tidak qowy, apakah qowy itu harus sesuai dengan virusmu?! Sedangkan syekh Soleh Al-Fauzan menegaskan: “Barang siapa yang telah sampai padanya Al-Quran maka telah tegak hujjah atasnya”.
Ucapanmu ini hanya untuk membela virusmu yang selalu dihadang oleh anti virus, karena kenyatannya kamu tetap berwala’ dengan hizbiyyin ketika di Dammaj padahal telah tegak hujjah atas mereka lewat lisan, bukan hanya tulisan yang kamu anggap tidak qowy!!!
Dan ucapanmu “status mereka adalah sunny maftun” hanya dikarenakan nasehat hanya lewat tulisan ini adalah ucapan yang konyol. Karena keharusannya sururiyyin mereka adalah sunny maftun, karena kalian tidak pernah menasehati mereka langsung lewat lisan, bahkan mungkin lewat tulisanpun tidak pernah. Maka Abu Nida’ sunny maftun, Abu Sa’ad sunny maftun, Yazid sunny maftun, Abdul Hakim Abdad sunny maftun, Aunur Rifiq sunny maftun dan semuanya sunny maftun, belum jadi ahli bid’ah. Kalau kamu mengatakan: “Tahdzir ulama’ telah banyak tentang Ihyaut Turots sebagai bayan untuk mereka”, maka kami katakan bukankah bayan ulama’ itu juga lewat tulisan? Maka kenapa tidak kamu terima kalau bayan dari Dammaj juga lewat tulisan? Dan bukankah bayan dari Dammaj juga banyak untuk memperingatkan mereka dari para maftunin? Kalau demikian kenapa kamu hukumi mereka surury dan luqmaniyyun salafi maftun padahal kondisi mereka sama?!
Kemudian ucapan kamu “maftun”, itu menunjukkan mereka itu harus dijauhi atau harus didekati? Tentu saja yang namanya maftun harus dijauhi supaya jangan jadi maftun juga, kalau demikian kenapa kamu mau mendekati mereka padahal kamu katakan mereka itu maftun?!
Wahai Ust Yasiruddin !!! sepintar-pintarnya kamu membuat virus, virusmu tetap akan loyo, tak akan mampu menghadapi hujjah, anti virus telah tersedia, bisa jadi virus itu akan menyerangmu sehingga kamu pun menjadi error. ( )
Kembalilah kalian kepada jalan yang benar dan ikutilah toriqoh salaf, jika kalian meyakini sebagaimana syekh Yahya meyakini dalam fitnah ini, maka jauhilah para hizbiyyin dan berlepas dirilah kalian dari mereka. ( )
نسأل الله أن يثبتنا على السنة

ctt kaki:
([1]) Berdasarkan hadits di atas, kunci selamat dari fitnah adalah dengan mengilmui sunnah Rosul dan mengikutinya. Juga mengilmui sunnah Khulafaur Rosyidin dan mengikutinya. Intinya adalah gabungan antara ilmu dan amal, bukan sekedar mengumpulkan teori, atau beramal tanpa ilmu. Lihat ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “Miftah Daris Sa’adah” hal. 31.
([1]) ”Asy-Syari’ah” milik Al-Ajurry hal. 69 cetakan Dar Ibnu Hazm, dari jalan Ja’far bin Muhammad Ash-Shondali dari Fadhl bin Ziad dari Abu Tholib. Sanadnya dho’if. Abu Tholib dia adalah Ahmad bin Humaid Al-Misykani, kami tidak mendapati ada yang mentsiqohkannya melainkan hanya kalimat ” dan Imam Ahmad memuliakannya dan menghormatinya sebagaimana dalam “Tarikh Baghdad”, kalimat ini bukan kalimat tautsiq, maka Abu tholib terhukumi majhul. Dan Fadhl bin Ziad dia termasuk murid imam Ahmad dan banyak meriwayatkan darinya, dan dalam sanad ini dia meriwayatkan melalui perantara Abu Tholib, kami juga tidak medapati ulama’ yang mentsiqohkannya melainkan kalimat “dan Abu Abdillah mengetahui kedudukannya dan memuliakannya sebagaimana dalam “Tarikh Baghdad”, ini juga bukan kalimat tautsiq maka dia juga terhukumi majhul. Ja’far bin Muhammad Ash-Shondali dikatakan oleh Al-Khotib tsiqoh solih, lihat “Tarikh Baghdad”. Kami sebutkan kisah ini walaupun sanadnya dho’if, karena sikap imam Ahmad yang seperti ini sangatlah masyhur dan didukung oleh dalil.
([1]) Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam kitab “Asy-Syari’ah” halaman 68, dari jalan Ibnu Makhlad dari Abu Dawud dari Ishaq. Sanadnya sohih, Ibnu Makhlad adalah Muhammad bin Makhlad bin Hafs Abu Abdillah Ad-Darowi Al’atthor dikatakan oleh Daroquthni tsiqoh ma’mun, lihat “Mausu’atu Aqwalid Daroquthni” dan “Tarikh Baghdad”.
([1]) Diriwayatkan Al-Ajurri dalam “Asy-Syari’ah” halaman 69 dari jalan yang sama.
([1]) Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad melalui jalan Abdul Karim bin Muhammad bin Ahmad Adh-Dhoby dari Ahmad bin Ibrohim Bin Syadzan dari Abu Bakr Abdulloh bin Ismail bin Burhan dari Abu Thoyyib Al-Mawardi. Semua periwayatnya kami tidak mendapati tarjamah dan tautsiq dari ulama’ kecuali Ahmad bin Ibrohim bin Syadzan tarjamahnya dalam kitab Ghoyatunnihayah Fi Thobaqotil Qurro’ dia adalah Abu Bakr Al-Baghdadi namun tidak ada tautsiq juga. Dengan demikian maka kisah ini sanadnya dho’if –sebatas ilmu yang kami miliki-, dan kami sebutkan kisah ini dalam tulisan ini karena kisah ini telah masyhur dalam kitab-kitab aqidah bahwa Al-Karobisi ini merupakan pelopor kalimat ” lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk”. Dan kami berharap jika ada yang punya faedah tentang kesohihan kisah ini agar memberi faedah tersebut kepada kami. Imam Ad-Dzahabi juga menyebutkan kisah semisal dengan kisah ini dalam Siar A’lam 11/289.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Para Luqmaniyyun itulah yang pantas dijuluki sebagai haddadiyyun. Asy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata tentang sifat Haddadiyyah kesembilan: “Mereka punya keistimewaan dengan melaknat, kasar dan terror sampai ke derajat mereka mengancam Salafiyyin dengan memukul, dan bahkan tangan-tangan mereka telah menjulur untuk memukul sebagian Salafiyyin.” (“Shifatul Haddadiyyin” hal. 51-52).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Begitulah karakter pengekor hawa nafsu dari masa ke masa, melakukan kejahatan fisik terhadap para pembela kebenaran. Asy Syaikh Ahmad An Najmiy berkata tentang ahli hawa: “… karena mereka, termasuk dari kebiasaan mereka adalah: mudah terbakar emosinya demi menolong manhaj mereka, maka mereka menyakiti orang yang mengkritik mereka. Dan ini adalah kebiasaan ahli batil di setiap zaman dan tempat, sejak masa Nuh sampai hari kita ini.” (“Ar Roddusy Syar’iy”/hal. 69).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Kaum munafiqun berusaha memutarbalikkan fakta. Alloh ta’ala berfirman:
}وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ الله وَهُمْ كَارِهُونَ{ [التوبة/48]
“Dan mereka membolak-balikkan perkara kepadamu hingga datangnya kebenaran dan menanglah agama Alloh dalam keadaan mereka benci.”
([1]) Ini hanya sekedar riwayat ringkas dan insyaalloh mencukupi untuk mengenalkan siluman hitam ini.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: hadits ini hasan.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Atsar hasan, diriwayatkan oleh Al Lalikaiy رحمه الله dalam “Syarh Ushul I’tiqod” (1/hal. 562) berkata: akhbarona Al Hasan bin Utsman: akhbarona Ahmad bin Hamdan: haddatsana Ahmad ibnul Hasan: haddatsana Abdush Shomad Mardawaih yang berkata: aku mendengar Al Fudhoil..dst.
Al Hasan bin Utsman adalah Al Hasan bin Utsman bin Ahmad, Abu Umar yang terkenal sebagai Ibnul Falwi Al Wa’izh. Al Khothib berkata: “La ba’sa bihi” (“Tarikh Baghdad”/3881).
Ahmad bin Hamdan adalah Ahmad bin Ja’far bin Hamdan, tsiqoh. (“Lisanul Mizan”/1/hal. 145).
Ahmad ibnul Hasan adalah ibnu Abdil Jabbar Al Baghdadiy Ash Shufiy, ditsiqohkan oleh Al Khothib Al Baghdadiy dan Adz Dzahabiy. Orang ini adalah ahli hadits dan ahli kemantapan hapalan. (“Siyar A’lamin Nubala”/14/hal. 152 /cet. Ar Risalah).
Mardawaih, Abdush Shomad bin Yazid, adalah sahabat Al Fudhoil bin ‘Iyadh. Yahya bin Ma’in berkata: “La ba’sa bihi. Bukan termasuk orang yang berdusta.” Al Husain bin Qohm berkata: “Tsiqoh, termasuk ahlissunnah dan waro” (“Lisanul Mizan”/2/hal. 114/Darul Kitabil Islamiy).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Imam Al-Barbahariy -rohimahulloh- berkata: “Permisalan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka memendam kepalanya dalam tanah sambil mengeluarkan ekornya. Jika sudah memungkinkan, maka mereka akan menyengat. Demikian pula ahlul bida’, mereka bersembunyi di antara manusia. Jika sudah memungkinkan, maka mereka akan melancarkan apa yang mereka inginkan.” (“Thobaqotul Hanabilah”/ 2/hal. 44/biografi Al Imam Hasan bin Ali Al Barbahariy/Darul Ma’rifah).

([1]) Tambahan editor وفقه الله: Bukhori adalah ustadz si Syarif yang menampung Abu Taubah di pondoknya di Palembang.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Ali Klaten salah seorang anggota Luqmaniyyin.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: kenyataan membuktikan bahwa tidak sedikit orang yang di awal pergulatan melawan hizbiyyin, dia nampak mantap dan tegar, namun seiring dengan pergantian malam dan perputaran siang, dirinya berubah menjadi lembek dan mudah ditipu oleh penampilan lahiriyyah para pengikut hawa nafsu, dan mulai memandang jelek orang-orang yang tegar setia di medan perang yang panas dan penuh duri ini. Alangkah besarnya nilai istiqomah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata:
وإنما غاية الكرامة لزوم الاستقامة فلم يكرم الله عبدا بمثل أن يعينه على ما يحبه ويرضاه ويزيده مما يقربه إليه ويرفع به درجته.
“Dan hanyalah puncak dari karomah (kemuliaan) itu adalah: senantiasa tegak lurus. Maka tidaklah Alloh memuliakan seorang hamba semisal diri-Nya menolongnya untuk melaksanakan perkara yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya, dan menambahinya dengan perkara yang semakin mendekatkannya kepada-Nya, dan dengannya Dia mengangkat derajatnya.” (“Al Furqon Baina Auliyaur Rohman…”/hal. 91/cet. Ar Risalah)
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Iya benar. Para hizbiyyun banyak memiliki keseragaman langkah untuk menipu orang-orang yang lemah. Dulu Abu Kholid Muntilan bilang ke ana: “Ana sudah paham tentang fitnah ini. Perkaranya jelas.” Ternyata dia bergabung dengan Luqmaniyyin, menyalahkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله., dan membela Abdurrohman Al Mar ‘iy. Demikian pula Abdul ‘Aziz Banyuwangi bilang ke ana: “Fitnah ini jelas, ana telah paham.” Ternyata dia selalu gabung dengan para Luqmaniyyun dan menyindir-nyindir para tsabitin.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Ini adalah perkara ijma’. Al Imam Abu Utsman Ash Shobuni رحمه الله menukilkan madzhab Salaf: “Dan mereka bersepakat untuk menundukkan Ahlul Bida`, menghinakan dan merendahkan mereka, dan menjauhkan mereka, dan menjauh dari mereka, dan menghindari persahabatan dengan mereka dan pergaulan dengan mereka, dan mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara menjauhi mereka dan meninggalkan mereka.” (Aqidatis Salaf Ashabil Hadits” hal. 114/Darul Minhaj).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Iya benar. Kain gombal produksi CV. Abdulloh bin Ubaiy selalu laris di sepanjang zaman di kalangan para munafiqun. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Cukuplah bagi seorang hamba kebutaan dan ketertinggalan manakala dia melihat para tentara iman dan pasukan sunnah dan Qur’an telah memakai pakaian perang mereka, mempersiapkan perbekalan mereka, menempati barisan mereka, dan berdiri di posisi-posisi mereka, tungku pertempuran telah memanas, roda penggilingan telah berputar, peperangan semakin dahsyat, para sejawat saling berteriak: “Ayo turun, ayo turun!” tapi orang ini masih saja ada di tempat persembunyian, di lobang-lobang, dan bersembunyi di tempat masuk bersama para perempuan yang tertinggal. Jika takdir membantunya dan dia bertekad untuk keluar, duduklah dia di atas ketinggian bersama para penonton, sambil melihat siapakah yang menang, agar dia bisa bergabung dengan mereka. Lalu diapun mendatangi mereka sambil bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang paling berat dan berkata: Sungguh aku ini bersama kalian, dan aku berangan-angan bahwasanya kalian itulah yang menang.” (“Al Qoshidatun Nuniyyah”/Ibnul Qoyyim/1/hal. 8/syaroh Asy Syaikh Muhammad Kholil Harros).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Mungkin di luar kelihatan tidak peduli agar tidak dimusuhi oleh Luqmaniyyun, tapi di hadapan kami Yasir ini sering mencaci-maki Luqmaniyyun dengan berlebihan, dan membakar semangat kami untuk memerangi mereka. Hanya saja dalam suasana genting dia selalu lari ke belakang dan membiarkan kami sendirian mengalami pedihnya kekerasan tangan para Luqmaniyyun dan kelihaian lidah mereka di persidangan. Lalu setelah itu dia sering bergaul dengan mereka dan membela-bela mereka.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Yasir pantas untuk dijauhi berdasarkan kaidah yang disepakati para imam tentang sikap bergaul dengan ahli ahwa. Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “… termasuk dari perkara yang akan kami jelaskan itu telah bersepakat padanya Muslimin dan seluruh umat –sampai pada ucapan beliau:- dan termasuk dari sunnah adalah: menjauhi setiap orang yang berkeyakinan sedikit saja dari apa yang telah kami sebutkan, meninggalkannya, membencinya, dan meninggalkan orang yang berloyalitas pada orang tadi, dan orang yang menolongnya, membelanya dan bersahabat dengannya, sekalipun pelaku itu tadi menampakkan sunnah.” (“Asy Syarh Wal Ibanah”/Ibnu Baththoh/hal. 65/Darul Atsar).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Alloh ta’ala berfirman :
﴿لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ﴾ [النساء: 123]
“Bukanlah dengan angan-angan kalian, dan bukan pula dengan angan-angan ahli kitab. Barangsiapa melakukan kejelekan maka dia akan dibalasi sesuai dengan kejelekan itu, dan dia tak akan mendapati pelindung ataupun penolong selain Alloh.”
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda:
الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف
“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” (HSR Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901)).
Dan diriwayatkan Al Bukhoriy secara mu’allaq dalam “Shohih” , dan bersambung di “Al Adabul Mufrod” (900) dari Aisyah –radhiyallohu `anha-.
Ibnu Mas`ud –radhiyallohu `anhu- berkata:
«إنما يماشي الرجل ويصاحب من يحبه ومن هو مثله»
“Seseorang itu hanyalah akan mengajak berjalan dan bersahabat dengan orang disukainya dan yang seperti dirinya” (“Al Ibanah” 2\476\ karya Imam Ibnu Baththoh -rahimahulloh-).
Dan dalam satu riwayat: “Nilailah seseorang itu dengan orang yang bersahabat dengannya, karena dia itu hanya akan bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.”
Atsar Ibnu Mas’ud ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqiy di “Syu’abul Iman” no. 8994, dan Abdurrozzaq di “Al Mushonnaf” no. 7894. Atsar ini jayyid dengan seluruh jalannya.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Memang Yasir mencapai rekor mengalahkan para sejawatnya dalam memakai topeng Salafiyyah sehingga banyak orang yang tertipu. Akan tetapi para Salafiyyun yang mendapatkan taufiq dari Alloh, juga telah banyak menelusuri jejak Salaf dalam menghadapi ahli ahwa, dan kenyang berhadapan langsung dengan berbagai makar lisan ahli ahwa akan berkerut keningnya manakala mendengar ucapan Yasir di hadapan sebagian muridnya di Indonesia : “Yang hizbiy hanyalah Luqman, ustadz-ustadz yang lain hanyalah salafiy yang maftun.” “Boleh salam pada mereka.” Kabar ini disampaikan oleh akhunal fadhil Abu ‘Ukkasyah Al Jawiy حفظه الله.
([1])Tambahan editor وفقه الله: Zhohir perbuatan itu lebih kuat untuk menjelaskan jati diri seseorang daripada zhohir lisan. Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata:
فلسان الحال أنطق من لسان المقال.
Dalil keadaan itu lebih bisa bicara daripada dalil ucapan.” (“At Tashfiyah Wat Tarbiyah”/Al Albaniy /hal. 22-23/Maktabatul Ma’arif).
([1])Tambahan editor وفقه الله: bagi sebagian orang yang suka mencari celah kekurangan dan tidak puas dengan penjelasan Akhunal fadhil Abul Fida حفظه الله, dan berkata: “Di manakah penjelasan ulama tentang hadits ini?”, maka silakan membaca penjelasan berikut ini: yang diinginkan dengan kemunafiqan dalam hadits ini adalah nifaq I’tiqodiy. Dan dengan sebab itulah Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjawabnya dengan menyebutkan “La ilaha illalloh mencari dengan itu wajah Alloh.” Dan tidak menjawabnya dengan menyebutkan faktor kejujuran, ataupun amanah, ataupun penunaian janji.
Sesungguhnya sebagian Shohabat رضي الله عنهم menuduh Malik ibnud Dukhsyun رضي الله عنه dengan nifaq i’tiqodiy karena nampak darinya perkara yang membuat mereka berkata: “Itu karena kami melihat wajahnya dan nasihatnya kepada munafiqun.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak menyalahkan mereka dalam cara pendalilan mereka dengan zhohir tadi, karena telah tetap dalam syari’ah bahwasanya sikap menolong, condong, dan mendekat pada suatu kelompok merupakan dalil adanya rasa cinta, kecocokan dan loyalitas. Andaikata seseorang itu benci pada munafiqun pastilah dirinya akan menjauh dari mereka.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Wilayah (perwalian) itu adalah lawan dari ‘adawah (permusuhan). Dan asal dari perwalian adalah rasa cinta dan kedekatan. Dan asal dari permusuhan dalah kebencian dan sikap menjauh.” (“Al Furqon Baina Auliyair Rohman Wa Auliyaisy Syaithon”/hal. 3/cet. Ar Risalah).
Akan tetapi Rosululloh صلى الله عليه وسلم didukung oleh wahyu sehingga beliau mengetahui bahwasanya Malik رضي الله عنه termasuk orang yang mengucapkan “La ilaha illalloh” mencari dengan itu wajah Alloh, sehingga dia bersih dari nifaq I’tiqodiy dengan nash ini. Badrud Din Al ‘Ainiy رحمه الله berkata: “Dan ini adalah persaksian dari Rosululloh tentang keimanan Malik secara batin, dan kebersihannya dari kemunafiqan.” (“’Umdatul Qori”/6/hal. 443).
Dan termasuk perkara yang memperkuat bahwasanya Malik ibnud Dukhsyun رضي الله عنه bersih dari kemunafiqan adalah: beliau tidak pernah tertinggal dalam jihad bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan beliau mencurahkan apa saja yang dimilikinya di jalan Alloh. Al Imam Abu Umar Ibnu Abdilbarr رحمه الله berkata: “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwasanya Malik ini hadir dalam perang Badar dan seluruh peperangan setelah itu. Dan dalam perang Badr beliaulah yang menawan Suhail bin ‘Amr. Beliau pernah dituduh dengan kemunafiqan” –sampai pada ucapan beliau:- “Tidaklah benar kemunafiqan itu pada beliau, sementara telah nampak bagusnya keislaman beliau yang menghalangi tuduhan tadi.” (“Al Isti’ab Fi Ma’rifatil Ashhab”/1/hal. 420).
Memang, sesungguhnya duduk-duduk dan persahabatan bersama munafiqin itu merupakan alamat keburukan, akan tetapi Alloh عز وجل mengetahui apa yang ada di hati Malik رضي الله yang berupa kejujuran iman. Dan cukuplah baginya hadirnya beliau dalam perang Badr sebagai tazkiyah bagi beliau. Maka bagaimana dengan hadirnya beliau pada seluruh peperangan bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم bahkan hingga pada waktu yang susah (perang Tabuk)? Beliau رضي الله عنه hadir dalam perang Tabuk yan mana barangsiapa tidak menghadirinya tanpa udzur maka dia tertuduh sebagai munafiq.
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Hanyalah Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memerintahkan untuk memboikot Malik ibnud Dukhsyun karena beliau tidak mengetahui ada padanya perkara kemunafiqan yang ditakutkan, dan kemunafiqan yang dituduhkan tadi tidaklah ada dengan bayyinah. Malik hanya dituduh saja dengan kemunafiqan. Ini berbeda dengan tiga orang yang tertinggal itu, karena sesungguhnya mereka mengakui perkara yang dengannya ditakutkan pada diri mereka ada kemunafiqan. Oleh karena itu Nabi memberikan udzur pada orang-orang yang mengemukakan udzur dan menyerahkan urusan mereka pada Alloh, dan kebanyakan mereka (orang-orang yang mengemukakan udzur tadi) itu pendusta.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/no. 425/3/hal. 191).
Adapun apa yang disebutkan sebagian Shohabat dari keadaan Malik: “Itu karena kami melihat wajahnya dan nasihatnya kepada munafiqun.” Maka hal itu adalah dikarenakan kerasnya penyamaran para munafiqun di hadapan beliau sehingga tidak jelas bagi beliau kemunafiqan mereka. Tidak diragukan bahwasanya beliau رضي الله عنه memiliki udzur di sisi Alloh. Badrud Din Al ‘Ainiy رحمه الله berkata: “Barangkali beliau memiliki udzur dalam kasus tersebut sebagaimana dulunya Hathib bin Abi Balta’ah juga punya udzur. Dan Hathib juga termasuk orang yang menghadiri Badr. Dan barangkali orang yang mengucapkan tuduhan itu adalah karena dia menilai berdasarkan zhohir. Tidakkah engkau melihat bahwasanya Nabi bagaimana beliau menjawab perkataannya tadi: “Karena sesungguhnya Alloh telah mengharomkan terhadap neraka orang yang berkata La ilaha illalloh mencari dengan itu wajah Alloh.” Dan ini adalah pengingkaran terhadap perkataannya itu.” (“’Umdatul Qori”/6/hal. 436).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Ini memang jawaban yang bagus terhadap syubuhat tersebut. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Kemunafiqan Abdulloh bin Ubaiy dan ucapan-ucapannya dalam kemunafiqan itu banyak sekali bagaikan mutawatir di sisi Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Shohabatnya. Dan sebagian dari mereka mengakuinya dengan lidahnya dan berkata: “Kami mengucapkan itu hanyalah untuk obrolan dan permainan.” Sebagian khowarij juga telah berkata di hadapan beliau: “Sesungguhnya engkau tidak adil.” Dan Nabi صلى الله عليه وسلم ketika ditanya: “Tidakkah sebaiknya Anda membunuh mereka?” beliau tidak berkata: “Belum tegak bayyinah terhadap mereka.” Akan tetapi beliau bersabda: “Agar orang-orang tidak berkata bahwasanya Muhammad membunuh teman-temannya sendiri.”
Maka jawaban yang benar jika demikian adalah: bahwasanya tidak dibunuhnya mereka pada masa hidupnya Nabi صلى الله عليه وسلم di situ ada maslahat yang mengandung pelunakan hati manusia kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan penyatuan kalimat manusia untuk beliau. Dan pembunuhan mereka saat itu akan menyebabkan larinya orang dalam keadaan Islam masih jauh terasing, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu paling bersemangat untuk melunakkan hati manusia, dan paling menjauhi perkara yang membikin mereka lari dari menaati beliau. Perkara ini khusus pada waktu hidupnya beliau صلى الله عليه وسلم. –sampai dengan ucapan beliau:-
Maka sesungguhnya yang demikian itu adalah murni hak beliau. Beliau berhak untuk menuntut balas, dan beliau juga berhak untuk membiarkan orang itu. Dan umat ini sepeninggal beliau tak punya hak untuk tidak menuntut hak beliau untuk membalas. Bahkan mereka semua wajib untuk menuntut balas demi beliau, dan itu adalah wajib.” (“Zadul Ma’ad”/3/hal. 496).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: ayat juga menjadi dalil bahwasanya seseorang yang berusaha bergaya bagus dengan kepandaian bersilat lidah, tetap saja akan terbongkar jati dirinya. Al Imam Abul Fida Isma’il bin Katsir رحمه الله berkata dalam tafsir “Dan pastilah engkau akan mengenali mereka pada gaya bicara mereka” (QS. Muhammad: 20): “Yaitu: pada sesuatu yang muncul dari ucapan mereka yang menunjukkan pada maksud-maksud mereka. Orang yang berbicara itu bisa dipahami dari kelompok manakah dirinya itu dengan makna-makna ucapannya dan maksud perkataannya. Dan itulah yang dikehendaki dari gaya bicara.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 324/Darul Hadits).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Mereka semua tadi adalah hizbiyyun ahlul ahwa, sekalipun mereka mengumandangkan tahdzir terhadap hizbiyyun, karena mereka semua bersatu dalam penyelisihan terhadap suatu manhaj Salaf. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Manakala mereka paling jauh dari mengikuti Salaf, merekapun jadi paling terkenal dengan kebid’ahan. Maka diketahuilah bahwasanya syi’ar ahlu bid’ah adalah: tidak mau beragama dengan mengikuti Salaf.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 155).
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Sesuai dengan kadar keluarnya seseorang dari Salaf dan dari jalan Salaf رضوان الله عليهم terjadilah kebid’ahan.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 17/Maktabah Shon’al Atsariyyah).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: virus senang berdekatan dengan kuman. Ini ungkapan bagus. Malik bin Dinar berkata: “Manusia itu berjenis-jenis seperti jenis-jenis burung. Burung dara bersama burung dara, burung gagak bersama burung gagak, bebek bersama bebek, sho’wu (sejenis burung kecil) bersama sho’wu. Dan setiap manusia itu bersama dengan orang yang sekarakter dengannya.” (Diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Bathhthoh رحمه الله (“Al Ibanatul Kubro”/no. 517/sanad hasan).
([1]) Tambahan editor وفقه الله: dari mana ya? Tak mungkin dari Alloh. Barangkali jawabannya ada dalam firman Alloh ta’ala:
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُم [الأنعام: 121]
Dan sesungguhnya para setan itu benar-benar memberikan wahyu kepada para wali mereka untuk mendebat kalian.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: o, itu tepat sekali. Pembikin virus makar akan terjangkiti virusnya sendiri. Alloh ta’ala berfirman:
}ولا يحيق المكر السيء إلا بأهله{
“Dan tidaklah makar yang buruk itu menimpa kecuali pelakunya sendiri”.
([1]) Tambahan editor وفقه الله: Inilah akhir dari risalah yang bagus dari akhinal fadhil Abul Fida حفظه الله. Semoga Alloh memberkahinya dan memberkahi seluruh amalannya. Oya ada sedikit perkara yang perlu editor sampaikan:
Yang pertama: bisa saja para pencari celah kesalahan akan berkata: “Siapa penulis risalah ini? Apakah dia majhul ataukah pembikin tadlis dengan mengganti kuniyah?” maka ana jawab: beliau adalah salah seorang tholibul ilmi di Darul Hadits Dammaj, yang kecemburuannya terhadap Islam dan sunnah mendorongnya untuk turut andil menulis beberapa risalah nasihat. Beliau selama ini dikenal sebagai Abu Hanifah Hanif bin Abil Abbas Ar Riyawiy. Kemudian mengganti kuniyahnya sebagai Abul Fida. Dan itu sah-sah saja.
Yang kedua: andil editor عفا الله عنه dalam memberikan catatan kaki untuk risalah ini bukanlah dalam rangka pamer ilmu sebagaimana yang dibisikkan sebagian pihak, tapi dalam rangka memenuhi kepercayaan sang penulis untuk memperbagus risalah yang sudah bagus ini, sehingga pedang sunnahnya bertambah indah dan tajam untuk merantas jaring syubuhat ahlul bathil. Itupun sebatas kemampuan editor. Wabillahit taufiq

Sumber: http://aloloom.net

http://al-manshurah.blogspot.co.id/2012/06/bukti-seorang-salafy-bukan-sekedar.html
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s