Inilah ‘Aqidah Kami Dengan Dalil-Dalilnya

هذه عقيدتنا مع دلاإلها
Inilah ‘Aqidah Kami
Dengan Dalil-Dalilnya
ابو إبراهيم سعيد المكاسّري
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
2
بسم الله الرحمن الرحيم
Inilah ‘Aqidah Kami, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Dengan Dalil-Dalilnya:
1) Kami beriman bahwa Alloh Al-Akbar mutlak ada tanpa ada yang mengadakan, Dia ada tanpa permulaan dan tanpa kebinasaan, hanya Dialah pencipta segala sesuatu, hanya Dialah pencipta, pengatur dan penguasa alam semesta.
Alloh ta’ala berfirman:
        
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Atthuur: 35).
    
“Segala puji hanya bagi Alloh, Robb semesta alam.” (Al-fatihah: 1)
2) Kami beriman bahwa Alloh Al-Bashir wa Assamii’ (Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar) berada tinggi di atas langit istiwa’ di atas ‘arsyNya dan ilmuNya meliputi segala sesuatu.



































“Sesungguhnya Robb kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha suci Alloh, Robb semesta alam. (Al-A’roof: 54)








































“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia (PengawasanNya) bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Alloh Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 4)
[                 
       
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
3
“Apakah kamu merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, Atau Apakah kamu merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (Al-Mulk: 16-17)
Dan dalam Hadits yang panjang dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy Rodhiallaahu ‘anhu berkata: “… Maka setelah budak wanita tersebut dibawa ke hadapan beliau (Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam), beliau bertanya kepadanya: “Di mana Alloh?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu pun menjawab: “Engkau adalah Utusan Alloh.” Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia adalah seorang mukminah (wanita yang beriman).” (HR. Muslim Rahimahullaah no. 537 cetakan lain no. 836)
3) Kami beriman bahwa satu-satunya agama yang diterima di sisi Alloh ta’ala hanyalah Islam.
     
“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Alloh hanyalah Islam.” (Ali Imron: 19)
             
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imron: 85)
4) Kami beriman bahwa laa ilaaha illallooh (tiada yang berhak disembah selain Alloh), Dialah satu-satunya yang berhak disembah, Tiada tandingan bagi Alloh dalam ibadah kepadaNya.
                 
“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” dan Alloh-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Maaidah: 76)
           
“Sesungguhnya aku ini adalah Alloh, tidak ada ilaah (yang berhak disembah) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat aku.” (Thoha: 14)
5) Kami beriman bahwa sebaik-baik panutan adalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dan beliau adalah Nabi dan Rosul Alloh yang terakhir tiada lagi nabi sesudahnya.


















“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Alloh.” (Al-Ahzab: 21)



















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
4
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. dan adalah Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)
6) Kami beriman bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah diisro’-mi’rojkan oleh Alloh ta’ala pada suatu malam dari masjidil harom ke masjidil aqsho lalu naik, ke atas langit yang tujuh.























“Maha suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Isro’: 1)





































“Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Robbnya yang paling besar.” (An-Najm: 12-18)
Diriwayatkan dari shohabat Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Didatangkan kepadaku Buroq (ia adalah seekor binatang yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai), hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang). Akupun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, kemudian aku tambatkan hewan tersebut di sebuah tali (yang terdapat di pintu masjid Baitul Maqdis). Lalu aku memasuki masjid dan mengerjakan sholat dua raka’at. Setelah itu, aku keluar dan Jibril ‘alaihissalam mendatangiku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khomr dan sebuah bejana yang berisi susu. Akupun memilih susu. Kata Jibril ‘alaihissalam: ‘Engkau telah memilih fithrah.’
Kemudian kami naik menuju langit, lalu Jibril meminta (kepada malaikat penjaga pintu langit) untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit, dan akupun berjumpa dengan Adam, diapun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit kedua, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan dua anak dari bibi, yaitu ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
5
Zakariyya sholawatullohi ‘alaihima, mereka berduapun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit ketiga, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Yusuf shollallohu ‘alaihi wasallam, dia adalah seorang yang dikaruniai setengah dari ketampanan, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit keempat, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit keempat, dan akupun berjumpa dengan Idris, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Alloh ‘azza wajalla berfirman tentangnya:
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 57)
Kemudian kami naik menuju langit kelima, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kelima, dan akupun berjumpa dengan Harun shollallohu ‘alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit keenam, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit keenam, dan akupun berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit ketujuh, dan akupun berjumpa dengan Ibrahim shollallohu ‘alaihi wasallam sedang menyandarkan punggungnya di Al-Baitul Ma’mur, sebuah tempat yang setiap harinya ada 70.000 malaikat yang memasukinya, dan para malaikat yang sudah memasukinya tadi tidak akan kembali lagi.
Kemudian aku dibawa menuju Sidratul Muntaha, yang daunnya seperti telinga gajah dan buah-buahannya seperti guci yang besar. Tatkala ketetapan Alloh datang menyelimutinya, berubahlah Sidratul Muntaha itu. Tidak ada seorangpun dari makhluk Alloh yang mampu untuk menggambarkan keadaannya disebabkan sangat indahnya.
Alloh pun mewahyukan kepadaku dengan memerintahkan kepadaku sholat 50 waktu sehari semalam. Aku pun turun dan berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam. Dia pun bertanya: ‘Apa yang diwajibkan Robbmu kepada umatmu?’ Aku pun menjawab: ‘Sholat 50 waktu.’ Musa berkata: ‘Kembalilah kepada Robbmu, mohonlah keringanan kepada-Nya karena umatmu tidak akan sanggup memenuhi kewajiban ini, sungguh aku telah menguji Bani Israil (ternyata mereka tidak sanggup).
Aku pun kembali kepada Robbku dan aku memohon: ‘Wahai Robbku, berikan keringanan kepada umatku.’ Maka Alloh pun menguranginya sebanyak lima waktu. Kemudian aku
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
6
kembali menjumpai Musa dan aku katakana kepadanya: ‘Alloh telah mengurangi sebanyak lima waktu.’ Namun Musa tetap mengatakan: ‘Sesungguhnya umatmu belum mampu memenuhi kewajiban ini, kembalilah kepada Robbmu dan mohonlah keringanan kepada-Nya.
Terus menerus aku bolak-balik antara Robbku tabaraka wata’ala dengan Musa ‘alaihissalam sampai Alloh menyatakan: ‘Wahai Muhammad, kewajiban sholat itu sebanyak lima waktu sehari semalam, setiap sholat bernilai sepuluh (kebaikan), sehingga nilai keseluruhan dari lima waktu sholat adalah sebanyak 50 waktu sholat. Barangsiapa yang berniat untuk melakukan satu kebaikan namun dia belum mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika dia mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan kejelekan namun belum mengerjakannya, maka tidak akan dicatat kejelekan untuknya sedikitpun, dan jika mengerjakan kejelekan itu, maka akan dicatat baginya satu kejelekan.
Akupun turun dan berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam dan aku kabarkan tentang apa yang telah aku alami. Maka Musa mengatakan: ‘Kembalilah kepada Robbmu, mohonlah kepada-Nya keringanan. Aku katakan kepadanya: ‘Sungguh aku telah kembali kepada Robbku sampai aku merasa malu kepada-Nya.” (Dari riwayat Al-Imam Muslim rohimahulloh dalam kitab Shohihnya (hadits no. 162).
7) Kami beriman bahwa sholat lima waktu telah diwajibkan bagi setiap muslim yang mukallaf dan siapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka dia kafir keluar dari islam.























“Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103)
Jabir rodhiallohu ‘anhu berkata: Saya mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ
“Sungguh yang memisahkan antara seorang laki-laki (baca: muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim no. 82)
Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Author (1/403), “Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan sholat termasuk dari perkara yang menyebabkan terjadinya kekafiran.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah juga menerangkan perbedaan antara kata ‘al-kufru’ (memakai ‘al’) dengan kata ‘kufrun’ (tanpa ‘al’). Dimana kata yang pertama (yang memakai ‘al’/makrifah) bermakna kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama, sementara kata yang kedua (tanpa ‘al’/nakirah) bermakna kafir asghar yang tidak mengeluarkan dari agama. Sementara dalam hadits di atas dia memakai ‘al’. (lihat Iqtidho` Ash-Shiroth Al-Mustaqim hal. 70)
Buraidah -Rodhiallohu anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
الْعَهْدُ الَذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah sholat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. At-Tirmizi no. 2621, An-Nasai no. 459, Ibnu Majah no. 1069 dan dinyatakan shohih oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’ no. 4143)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
7
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam menjadikan sholat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min dan orang orang kafir, dan hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan orang Islam. Karena itu, barang siapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.”
Dari Abdulloh bin Syaqiq Al-Uqaili -rohimahulloh- dia berkata:
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَى اللَهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ لَا يَرَوْنَ شَيّْئًا مِنْ الْأَعْمَّالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيّْرَ الصَّلَاةِ
“Para sahabat Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpendapat mengenai sesuatu dari amal perbuatan yang mana meninggalkannya adalah suatu kekufuran melainkan sholat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2622)
8) Kami beriman bahwa zakat adalah wajib (sesuai syarat dan ketentuannya) dan siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.



















“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (At-Taubah: 103).



















“Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat, Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,” (Al-Muddatsir: 41-44)
9) Kami beriman bahwa puasa Romadhon adalah wajib (sesuai syarat dan ketentuannya) siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.





































































































هذه عقيدتنا مع دلاإلها
8
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqoroh: 183-185)
10) Kami beriman bahwa haji wajib bagi yang mampu, siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.





























“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitulloh itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitulloh. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imron: 97)
11) Kami beriman bahwa hanya Alloh ta’ala yang mempunyai nama-nama dan sifat yang paling indah dan paling agung sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits shohih.

















“Hanya milik Alloh al-asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’roof: 180)

























“Katakanlah: “Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (Al-Isro’: 110)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
9










“Dialah Alloh, tidak ada ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),” (Thoha: 8)
12) Kami beriman bahwa Nama-nama dan sifat Alloh ta’ala sesuai dengan keagunganNya tidak sama dengan makhluq dan tidak sama dengan apa yang kita bayangkan, sebab apa yang kita pikirkan adalah makhluq.
























“(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Asy-Syuuro: 11)














“Robb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” (Maryam: 65)












“Maka janganlah kamu Mengadakan permisalan bagi Alloh. Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Annahl: 74)
13) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menciptakan malaikat dari cahaya yang mempunyai sayap yang tidak pernah bermaksiat kepadaNya.



























“Segala puji bagi Alloh Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Alloh menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir: 1)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Aisyah RodhiAllohu ‘anha dalam Shohih Muslim (2996) dia berkata, “bersabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam:
خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari api yang bercampur dengan hitamnya api.”
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
10
14) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang berisikan kalamNya, tertulis di dalam mushhab, terhafal di dalam dada, dan terucapkan dengan lidah, dan Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang menasakh seluruh kitab sebelumnya.









“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 21-22)












“Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (Ali-Imron: 3)
















“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (Al-ankabuut: 49)














“Itulah ayat-ayat Alloh yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (perkataan) Alloh dan keterangan-keterangan-Nya.” (Al-Jatsiyah: 6)
             
                   
                
      
“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Alloh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Alloh hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Alloh-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu,” (Al-Maaidah: 48)
                     
“Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
11
kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al-Baqoroh: 106)
Jabir bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu berkata:
أَنَ عُمَّرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَبِيَ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْ أل الْكُتُ .ِِ فَقَرَأَهُ النَبِيُ
صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ فَغَضِ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوّْنَ فِيّْهَا، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَذِي نَفْسِي بِيَّدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيّْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ
تَسْأَلُوّْلُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُّخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِبُوّْا بِهِ أَوْ بِبَاطِ فَتُصَّدِقُوّْا بِهِ، وَالَذِي نَفْسِي بِيَّدِهِ لَوّْ أَنَ مُوّْسَى عَلَيّْهِ السَلاَمُ كَانَ حَيًّا
مَا وَسِعَهُ إِلاَ أَنْ يَتَبِعَنِي
“Umar ibnul Khoththob rodhiallohu ‘anhu datang kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahlul kitab. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pun membacanya lalu beliau marah seraya bersabda: “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khoththob? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahlul kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.” (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan Ad-Darimi dalam muqaddimah kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibani dalam kitabnya As-Sunnah no. 50. Hadits ini dihasankan oleh imam ahlul hadits di jaman ini Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As-Sunnah dan Irwa`ul Ghalil no. 1589)
Dalam riwayat Ad-Darimi datang dengan lafadz:
أَنَ عُمَّرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى رَسُوّْلَ اللهَ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ بِِنُسْخَةٍ مِنَ التَوّْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوّْلَ اللهِ
لذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَوّْرَاةِ . فَسَكَتَ، فَجَعَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوّْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَّاكِ ،
مَا تَرى مَا بِوَّجْهِ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ. فَنَظَرَ عُمَّرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ فَقَالَ: أَعُوّْذُ بِاللهِ
مِنْ غَضَ اللهِ وَغَضَ رَسُوّْلِهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ، رَضِيّْنَا بِاللهِ رَبًا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِحُمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوّْلُ اللهِ صَلَى
اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ: وَالَذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَّدِهِ لَوّْ بَدَالَكُم مُوّْسَى فَاتَبَعْتُمُّوّْهُ وَتَرَكْتُمُّوّْنِي، لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَّاءِ السَبِيّْ ، وَلَوّ كَانَ حَيًّا
وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَبَعَنِيْ
‘Umar ibnul Khoththob rodhiallohu ‘anhu datang kepada Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata: “Ya Rosulullah, ini salinan dari kitab Taurat.” Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam diam, lalu mulailah ‘Umar membacanya dalam keadaan wajah beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam berubah. Melihat hal itu Abu Bakar berkata kepada ‘Umar: “Betapa ibumu kehilangan kamu, tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam ?” Umar melihat wajah Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam (dan ia menangkap perubahan tersebut), maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Alloh dari kemurkaan Alloh dan RosulNya. Kami ridha Alloh sebagai Robb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.” Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan ia menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”
15) Kami beriman bahwa Al-Qur’an adalah kalam (perkataan) Alloh bukan makhluq.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
12




















“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Alloh, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Attaubah: 6)
Hadits riwayat Al-Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, katanya:
كَانَ رَسُوّْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ إِذَا خَطَّ احْمَّرَتْ عَيّْناَهُ وَعَلاَ صَوّْتُهُ وَاشْتَدَ غَضَبُهُ حَتَى كَأَنَهُ مُنْذِرُ جَيّْ يَقُوّْلُ
صَبَحَكُمْ وَمَسَاكُمْ أَمَا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتاَبُ اللهِ وَخَيّْرَ الْهُدَى لُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَ الأُمُوّْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah matanya memerah, suaranya meninggi, marahnya meningkat hingga seakan-akan beliau (sedang) mengomando satu pasukan tentara. Beliau berkata: ‘Perhatikan esok pagi dan petang kalian!’”
Beliau berkata pula: ‘Kemudian sesudah itu (amma ba’du). Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al Qur`an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan seburuk-buruk perkara ialah yang diada-adakan dan setiap bidah adalah sesat.”
16) Kami beriman kepada seluruh berita (termasuk yang ghoib) yang disampaikan di dalam Al-qur’an dan Hadits yang shohih sanadnya.












































“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Robb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqoroh: 1-5)

















“Dan apa yang diberikan Rosul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini Yahudi ataupun Nashrani yang mendengar tentang aku kemudian mati dan tidak beriman dengan apa yang aku telah diutus dengannya, kecuali dia tergolong dari penghuni neraka.” (HR. Muslim, 2/186 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
13
17) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah mengutus para Rosul kepada setiap ummat untuk menyeru kepada peribadatan hanya kepada Alloh dan menjauhi kesyirikan, dan penutup para Rosul adalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diutus kepada seluruh ummat jin dan manusia.































“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut (yang disembah selain Alloh) itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rosul-Rosul).” (Annahl: 36)
















“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada yang berhak disembah melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (Al-Anbiyaa’: 25)



















“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. dan adalah Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)













“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)




















“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Al-Ahqoof: 29)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاْلأَنْبِيَّاءُ أَوْلاَدُ عَلاَتٍ، أُمَهَاتُهُمْ شَتَى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
14
“Para nabi itu saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka adalah satu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِ النَاسَ حَتَى يَقُوّْلُوّا لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: إِلَى أَنْ يُوَّحِدُوا اللهَ –
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallooh (Tiada yang berhak disembah selain Alloh)” Dalam riwayat lain: “Sampai mereka mengesakan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1335, 2886 dan At-Tirmidzi no. 2606)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فُضِّلْتُ عَلىَ الْأَنْبِيَّاءِ بِسِتٍّ؛ أُعْطِّيّتُ جَوَّامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِّرْتُ بِالرُعْ ،ِِ وَأُحِلَتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُوّرًا
وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِّ كَافَةً، وَخُتِمَ بِيَ النَبِيُّوّنَ
“Aku diberi kelebihan atas para nabi dengan enam perkara, aku diberi jawami’ al-kalim (perkataan yang ringkas namun padat), aku diberi kemenangan dengan rasa takut dalam diri musuh, dihalalkan untukku rampasan perang, dijadikannya tanah untukku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, serta aku diutus kepada makhluk seluruhnya, dan para nabi ditutup denganku.” (Shahih, HR. Muslim Kitabul Masajid wa Mawadhi’ Ash-Shalah)
18) Kami beriman bahwa siapa yang meminta kepada orang mati atau kuburan maka dia telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkannya dari islam.



















“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Alloh memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” (Faathir: 22)









“(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.” (An-Nahl: 21)
Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika di ranjang menjelang wafat beliau:
لَعَنَ اللهُ الْيَّهُوّْدَ وَالنَصَّارَى اتَخَذُوْا قُبُوّْرَ أَنْبِيّآئِهِمْ مَسَاجِدَ
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)
Hadits yang semakna dengan hadits di atas diriwayatkan dari banyak shahabat, di antaranya dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (2/422) dan Al-Imam Muslim (2/71), dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari (1/422, 6/386, dan 8/116) dan Al-Imam Muslim (2/67), dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (2/67-68), dari Harits An-Najrani dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan sanadnya shahih di atas syarat Muslim, dari Usamah bin Zaid diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya (2/113) dan Ahmad (5/204), dari Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad (no. 1691, 1694), Ath-Thahawi di dalam Musykilul Atsar (4/13), Abu Ya’la (1/57) dan selainnya. Juga dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (5/184, 185), dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1/92/2), Ibnu Hibban (no. 340 dan 341) dan selainnya.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
15
Dari ‘Ali bin Abi Thalib dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dan Ibnu ‘Asakir, dan dari Abu Bakar diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawaih (lihat Tahdzir As-Sajid secara rinci, halaman 9-20).
Hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma:
نَهَى رَسُوّْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيّْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيّْهِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).
Hadits yang semakna datang dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (2/66). Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Tahdzir As-Sajid (hal. 22) mengatakan: “Sanadnya shahih.” Al-Haitsami (3/61) mengatakan: “Semua rawinya terpercaya.” Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Maka jelaslah dari hadits-hadits yang telah lewat tentang bahaya menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid dan akibat bagi orang-orang yang berbuat demikian berupa ancaman yang pedih dari sisi Allah.” (Tahdzir As-Sajid, hal. 21)
19) Kami beriman akan adanya fitnah kubur yaitu pertanyaan di dalam kubur siapa yang mejawabnya dengan benar maka akan berada dalam kenikmatan dan siapa yang sebaliknya akan disiksa.




















“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minuun: 100)















“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (Al-Mu’min: 46)
Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang dari kalangan Anshar. Kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahadnya sedang dipersiapkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Kami pun ikut duduk di sekitar beliau dalam keadaan terdiam, tak bergerak. Seakan-akan di atas kepala kami ada burung yang kami khawatirkan terbang. Di tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sebuah ranting yang digunakannya untuk mencocok-cocok tanah. Mulailah beliau melihat ke langit dan melihat ke bumi, mengangkat pandangannya dan menundukkannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda, “Hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari adzab kubur,” diucapkannya sebanyak dua atau tiga kali, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur,” pinta beliau sebanyak tiga kali.
Setelahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah mereka putih laksana mentari. Mereka membawa kain kafan dan wangi-wangian dari surga. Mereka duduk dekat si mukmin sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihissalam hingga duduk di sisi kepala si mukmin seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
16
Ruh yang baik itu pun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut wadah kulit. Malaikat maut mengambilnya. (Dalam satu riwayat disebutkan: Hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. Lalu dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Tidak ada seorang pun malaikat yang menjaga pintu malaikat kecuali mesti berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si mukmin diangkat melewati mereka). Ketika ruh tersebut telah diambil oleh malaikat maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangannya melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih.
Mereka meletakkan/membungkus ruh tersebut di dalam kafan dan wangi-wangian yang mereka bawa. Dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut. Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia. Mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut. Lalu dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit turut mengantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya, hingga mereka sampai ke langit ke tujuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di ‘Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain.”
Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Maka sungguh ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburnya ketika mereka pergi meninggalkannya. Lalu ia didatangi dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya, keduanya menghardiknya, mendudukkannya lalu menanyakan padanya, “Siapakah Rabbmu?” Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ditanya lagi, “Apa agamamu?” “Agamaku Islam,” jawabnya. “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi “Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya “Apa amalmu?” pertanyaan berikutnya “Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya,” jawabnya.
Ini adalah fitnah/ujian yang akhir yang diperhadapkan kepada seorang mukmin. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkannya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
يُثَّبِتُ اللهُ الَذِينَ آمَنُوّا بِالْقَوّْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَّاةِ الدُنْيَّا وَفِي اْلآخِرَةِ
“Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tsabit/kokoh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.” (Ibrahim: 27)
Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga!”
Lalu datanglah kepada si mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang. Kemudian ia didatangi oleh seseorang yang berwajah bagus, berpakaian bagus dan harum baunya, seraya berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”
Si mukmin bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kebaikan.” “Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lambat dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan,” jawab yang ditanya.
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan, “Ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada Allah
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
17
Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan bagimu dengan surga ini.” Maka bila si mukmin melihat apa yang ada dalam surga, ia pun berdoa, “Wahai Rabbku, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.” Dikatakan kepadanya, “Tinggallah engkau.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan penuturan beliau tentang perjalanan ruh. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat: hamba yang fajir) apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku, dan berwajah hitam. Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk dekat si kafir sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ruh yang buruk itu pun terpisah-pisah/berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malaikat maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari wol yang basah, hingga tercabik-cabik urat dan sarafnya. Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada seorang pun malaikat penjaga pintu kecuali berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si kafir jangan diangkat melewati mereka. Kemudian malaikat maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat maut melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar.
Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah didapatkan di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, “Siapakah ruh yang buruk ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling jelek yang dulunya ketika di dunia ia dinamakan dengannya. Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia, mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut, namun tidak dibukakan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:
لاَ تُفَتَحُ لَهُمْ أَبْوَّابُ السَمَّاءِ وَلاَ يَدْخُلُوّنَ الْجَنَةَ حَتَى يَلِجَ الْجَمَّ فِي سَمِ الْخِيَّاطِ
“Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.” (Al-A’raf: 40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.’ Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَمَّا خَرَ مِنَ السَمَّاءِ فَتَخْطَّفُهُ الطَّيّْرُ أَوْ تَهْوِّي بِهِ الرِيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيّقٍّ
“Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari langit lalu ia disambar oleh burung atau diempaskan oleh angin ke tempat yang jauh lagi membinasakan.” (Al-Hajj: 31)
Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Lalu ia didatangi dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya. Keduanya menghardiknya, mendudukkannya dan menanyakan kepadanya, “Siapakah Rabbmu?” Ia menjawab, “Hah… hah… Aku tidak tahu.” Ditanya lagi, “Apa agamamu?” “Hah… hah… Aku tidak tahu,” jawabnya. “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi. Kembali ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.” Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah dusta orang itu. Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakan untuknya sebuah pintu ke neraka!”
Lalu datanglah kepadanya hawa panasnya neraka dan disempitkan kuburnya hingga bertumpuk-tumpuk/tumpang tindih tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya). Kemudian
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
18
seorang yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk mendatanginya seraya berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”
Si kafir bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kejelekan.” “Aku adalah amalmu yang jelek. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu ini melainkan sebagai orang yang lambat untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kejelekan,” jawab yang ditanya.
Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu lagi tuli. Di tangannya ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu. Lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul lagi dengan pukulan berikutnya. Ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu neraka dan dibentangkan hamparan neraka, maka ia pun berdoa, “Wahai Rabbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad 4/287, 288, 295, 296, Abu Dawud no. 3212, 4753, dll, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Ahkamul Jana`iz hal. 202)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin: Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka dia dipukul dengan mirzabah dari besi dan berteriak dengan teriakan yang didengar semua makhluk selain manusia.
Dipukul karena dia tidak mampu menjawab, sama saja apakah orang kafir atau munafik. Dan yang memukul adalah dua orang malaikat yang menanyainya.
Mirzabah adalah pemukul dari besi, dan di suatu riwayat kalau seluruh penduduk Mina berkumpul untuk memikulnya maka mereka tidak mampu memikulnya. Apabila dia dipukul maka akan berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh semua makhluk kecuali (jin dan) manusia.
Perkataan beliau, “Dipukul maka dia berteriak” yakni dengan teriakan yang terdengar oleh segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, bukan segala sesuatu di seluruh penjuru dunia. terkadang yang mendengarnya akan terpengaruh dengannya, sebagaimana nabi ShollAllohu’alaihi wasallam pernah melewati kuburan Musyrikin dari atas keledainya, maka keledai tersebut lari menjauh sampai hampir melemparkan beliau ShollAllohu’alaihi wasallam, karena keledai tersebut mendengar suara orang yang diadzab. (Riwayat Muslim no. 2867 dari Zaid bin Tsabit RodhiAllohu’anhu) [kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin]
20) Kami beriman bahwa suatu hari nanti seluruh alam akan hancur dan binasa, itulah hari kiamat kemudian Alloh ta’ala akan membangkitkan makhluqNya untuk dihisab amalan mereka.













“Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Alloh membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7)


















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
19
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Alloh semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Alloh mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya. dan Alloh Maha menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujaadilah: 6)
Berkata Imam Al-Bukhory rohimahulloh ta’ala:
حَدَثَنِي يَحْيَّى بْنُ يُوّسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُوّ بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِّيّنٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي لُرَيْرَةَ عَنْ النَبِيِ صَلَى اللَهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ قَالَ بُعِثّْتُ أَنَا
وَالسَاعَةُ كَهَاتَيّْنِ يَعْنِي إِصْبَعَيّْنِ تَابَعَهُ إِسْرَائِيّ عَنْ أَبِي حَصِّيّنٍ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus dan jarak antara aku dan kiamat bagai dua ini, ” maksud beliau kedua jarinya. Hadits ini diperkuat oleh Israil dari Abu Hashin. (Shohih Bukhory no. 6140)
21) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menulis takdir seluruh makhluq di lauh mahfudz 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.



































“Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Al-An’aam: 59)





“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Al-Qomar: 53)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أنّ يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة
“Alloh telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Alloh menciptakan langit dan bumi.” (Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin al-’Ash RodhiyAllohu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thoyalisi (no. 557))
22) Kami beriman kepada takdir Alloh yang baik dan yang buruk dan semuanya mempunyai hikmah di sisiNya tidak ada yang sia-sia bagiNya.



















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
20
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shood: 27)
إنا كل شىء خلقنه بقدر
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)
وخلقّ ك شىء فقدره، تقديرا
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)
وإن من شىء إلا عنده بمّقدار
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khozanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)
Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليّخطّئه وأن ما أخطّأه لم يكن
ليّصّيّبه
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Alloh, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shohih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdulloh bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shohih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rohimahulloh)
Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shollAllohu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الإيمّان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليّوّم الا خر وتؤ من بالقدرخيّره وشره
“Engkau beriman kepada Alloh, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))
Dan Shohabat ‘Abdulloh bin ‘Umar RodhiyAllohu ‘anhuma juga pernah mendengar Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ك شيء بقدر حتى العجز والكيّسز
“Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”
(Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23))
23) Kami beriman bahwa sebaik-baik manusia ada di zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihiwa sallam, mereka adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rodhiallohu ‘anhum kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian yang mengikuti dengan benar 3 generasi terbaik tersebut hingga hari kiamat.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
21



























“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)





























“Sesungguhnya Alloh telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshor yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Alloh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,” (At-Taubah: 117)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيّْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوّْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوّْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shohabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Bukhori no. 2652, Muslim no. 2533 (212), dari Shohabat Abdulloh bin Mas’ud RodhiyAllohu ‘anhu].
24) Kami beriman bahwa sebaik-baik sahabat Nabi shollallohu ‘alaihiwa sallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian Utsman, dan ‘Ali ridhwanullohi ajma’in dan mereka adalah khulafaurrosyidin sebagaimana urutan kekuasaannya.
Dari Ali bin Abi Tholib RodhiAllohu ‘anhu dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:
قُلْتُ لأَبِي: أَيُ النَاسِ خَيّْرٌ بَعْدَ رَسُوّْلِ اللهَ ؟؟ قَالَ: أَبُوّ بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَ مَنْ؟ قَالَ: عُمَّرُ. وَخَشِيّْتُ أَنْ يَقُوّْلَ عُثّْمَّانُ.
قُلْتُ: ثُمَ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَ رَجُ مِنَ الْمُّسْلِمِّيّْنَ. )رواه البخاري: كتاب فضائ الصّحابة باب 4 وفتح البارى
20/7 )
Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Tholib RodhiAllohu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rosululloh ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhori, kitab Fadlailus Shohabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)
25) Kami beriman bahwa siapa yang mencela seorang saja dari sahabat Nabi maka dia adalah ahlul bid’ah yang sesat.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
22

























































“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”. (Al-Hasyr: 9-10)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَسُبُّوّا أَصْحَابِى ، فَلَوّْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَّ مِثّْ أُحُدٍ ذَلَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِلِمْ وَلاَ نَصِّيّفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya”. (HR. Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2540).
26) Kami beriman bahwa siapa yang memperolok-olok satu dari syari’at islam maka dia sesat kafir keluar dari islam.

















































“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (Al-An’aam: 70)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
23

































“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (Attaubah: 65-66)
27) Kami beriman bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihiwa sallam telah menyampaikan syari’at seluruhnya, dan telah sempurna agama ini.






















“Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,” (Al-Baqoroh: 259)














“pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)













“Kewajiban Rosul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Alloh mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Maaidah: 99)
Dari hadits ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al ‘Ash RodliyAllohu ‘anhuma dari Nabi shollAllohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌ قَبْلِي إَِلاََ كَانَ حَقًا عَلَيّْهِ أَنْ يَدُلَ أُمَتَهُ عَلَى خَيّْرٍ مَا يَعْلَمُّهُ لَهُمْ وَ يُنْذِرَلُمْ شَرً مَا يَعْلَمُّهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/1472, 1844), An Nasai dalam Al Kubra (4/431), Ibnu Majah (2/2956), dan Al Baihaqi (8/169))
28) Kami beriman bahwa siapa yang mengadakan perkara baru dalam agama ini maka dia itu ahlul bid’ah yang sesat.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
24






















“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Alloh telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Alloh. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al-An’aam: 190)






























“Katakanlah: “Robbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A’roof: 33)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا لَذَا مَا لَيّْسَ فِيّهِ فَهُوَّ رَدٌ وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ عَمِّ عَمَّلًا لَيّْسَ عَلَيّْهِ أَمْرُنَا فَهُوَّ رَدٌ
“Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.
Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”. Hadits ini dengan kedua lafadznya berasal dari hadits shohabiyah dan istri Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ‘A`isyah RodhiAllohu Ta’ala ‘anha. (Adapun lafadz pertama dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory (2/959/2550-Dar Ibnu Katsir) dan Imam Muslim (3/1343/1718-Dar Ihya`ut Turots). Dan lafadz kedua dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory secara mu’allaq (2/753/2035) dan (6/2675/6918) dan Imam Muslim (3/1343/1718).)
Dan juga hadits ini telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya (4594) dan Abu ‘Awanah (4/18) dengan sanad yang shohih dengan lafadz, “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang tidak ada di dalamnya (urusan kami) maka dia tertolak”.
Hadits riwayat Al-Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, katanya:
كَانَ رَسُوّْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ إِذَا خَطَّ احْمَّرَتْ عَيّْناَهُ وَعَلاَ صَوّْتُهُ وَاشْتَدَ غَضَبُهُ حَتَى كَأَنَهُ مُنْذِرُ جَيّْ يَقُوّْلُ
صَبَحَكُمْ وَمَسَاكُمْ أَمَا بَعْدُ فَإِنَ خَيّْرَ الْحَدِيْثِ كِتاَبُ اللهِ وَخَيّْرَ الْهُدَى لُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَ الأُمُوّْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah matanya memerah, suaranya meninggi, marahnya meningkat hingga seakan-akan beliau (sedang) mengomando satu pasukan tentara. Beliau berkata: ‘Perhatikan esok pagi dan petang kalian!’”
Beliau berkata pula: ‘Kemudian sesudah itu (amma ba’du). Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al Qur`an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan seburuk-buruk perkara ialah yang diada-adakan dan setiap bidah adalah sesat.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
25
أُوْصِيّْكُمْ بِتَقْوَّى اللهِ وَالسَمّْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَهُ مَنْ يَعِ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَّرَى اخْتِلاَفاً كَثِّيّْرًا فَعَلَيّْكُمْ بِسُنَتِي
وَسُنَةِ الْخُلَفَاءِ الْمَّهْدِيِيّْنَ الرَاشِدِيْنَ تَمَّسَكُوّا بِهاَ وَعَضُوّا عَلَيّْهَا بِالنَوَّاجِذِ وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوّْرِ فَإِنَ كُ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٌ
“Aku wasiatkan kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun kepada seorang budak Habsyi (Ethiopia). Sesungguhnya, siapa yang hidup dari kalian sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafa`ur rasyidin yang terbimbing. Peganglah dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (Shahih, HR. Abu Dawud dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَمَّنْ كَذَبَ عَلَيَ مُتَعَمِّّدًا فَلْيَّتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَارِ
“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya, diriwayatkan lebih dari seratus shahabat radhiallahu ‘anhum)
كَفَى بِالْمَّرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِثَ بِكُ مَا سَمِّعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan mengatakan segala yang didengarnya.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)
29) Kami beriman bahwa siapa yang melindungi ahlul bid’ah akan dilaknat oleh Alloh ta’ala.


















“Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 19)




































“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam seluruhnya.” (Annisaa’: 140)






































هذه عقيدتنا مع دلاإلها
26
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (An-Nisaa’: 68)
Al-Imam Al-Bukhoriy –semoga Alloh merahmatinya- di dalam “Ash-Shohih” membuat bab khusus “Bab Itsmi Man Aawa Muhditsan, Rawahu ‘Ali ‘Anin Nabi ShollAllohu ‘Alaihi wa Sallam”. Di dalam “Shohih Muslim” dan “Al-Adabul MufRod Lil Imam Al-Bukhoriy” dari hadits ‘Ali bin Abi Tholib –semoga Alloh meridhainya-, bahwa Rosululloh ShollAllohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
« وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا ».
“Dan semoga laknat Alloh atas siapa saja yang melindungi ahli bid’ah”.
30) Kami beriman bahwa belajar dengan system spp, kelas, dan TN adalah bukan termasuk tuntunan salaf dan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.








“Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yaasiin: 21)




















“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (Al-An’aam: 90)





















“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’aam: 159)




























“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (wahai istri nabi) dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
27
Dari Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhu berkata, Rosululloh sallAllohu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَهَ بِقَوّْمٍ فَهُوَّ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shohih Abu Dawud, Hasan Shohih no. 3401)
31) Kami beriman bahwa demokrasi, partai-partai, organisasi, dan yayasan adalah bid’ah yang memecah belah kaum muslimin.





















“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’aam: 159)
























“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)




















“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh). (Al-An’aam: 116)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari cara/jalan/produk kaum Yahudidan Nashroni. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَتَتَبِعُنَ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَى لَوّْ دَخَلُوّْا جُحْرَ ضَ تَبِعْتُمُّوّْلُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوّْلَ اللهِ، الْيَّهُوّْدُ وَالنَصَّارَى؟ قَالَ : فَمَّنْ؟
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb (binatang sejenis biawak yang hidup di padang pasir, pen.), niscaya kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Lihat Al-Lu`lu` wal Marjan, hadits no. 1708)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
28
32) Kami beriman bahwa syi’ah rofidhoh adalah kafir keluar dari islam.


























“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta terhadap Alloh?. mereka itu akan dihadapkan kepada Robb mereka, dan Para saksi akan berkata: “Orang-orang Inilah yang telah berdusta terhadap Robb mereka”. Ingatlah, kutukan Alloh (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,” (Huud: 18)
Ali bin Abi Tholib Rodhi-yAllohu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan dirinya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta. Ali rodhiallohu ‘anhu berkata:
لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَّرَ إِلاَ جَلَدْتُهُ حَدَ الْمُّفْتَرِيْنَ .
“Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.”
Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).
33) Kami beriman bahwa bermain musik, dan alat musik adalah harom.




















“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Alloh tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Alloh itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)
Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam:
لَيَّكُوّنَنَ مِنْ أُمَتِي أَقْوَّامٌ، يَسْتَحِلُوّنَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ، وَالْخَمّْرَ وَالْمَّعَازِفَ، وَلَيَّنْزِلَنَ أَقْوَّامٌ إِلَى جَنْ عَلَمٍ، يَرُوحُ
عَلَيّْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْتِيّهِمْ -يَعْنِي الْفَقِيّرَ– لِحَاجَةٍ فَيَّقُوّلُوّا: ارْجِعْ إِلَيّْنَا غَداً، فَيُّبَيِّّتُهُمُ اللهُ، وَيَضَعُ الْعَلَمَ، وَيَمّْسَخُ آخَرِينَ
قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوّْمِ الْقِيَّامَةِ
“Benar-benar akan ada sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, khomr, dan musik/alat musik. Mereka tinggal di puncak gunung, setiap sore seorang penggembala membawa (memasukkan) hewan ternak mereka ke kandangnya. Ketika datang kepada mereka seorang fakir untuk suatu kebutuhannya, berkatalah mereka kepada si fakir: ‘Besok sajalah kamu kemari!’ Maka di malam harinya Alloh Subhanahu wa Ta’ala adzab mereka dengan ditumpahkannya gunung tersebut kepada mereka atau digoncang dengan sekuat-kuatnya, sementara yang selamat dari mereka Alloh ubah menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.” (HR. Al-Bukhori dalam Shohih-nya, no. 5590 dari sahabat Abu Amir (Abu Malik) Al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu)
34) Kami beriman bahwa dosa riba lebih besar dari dosa zina.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
29



















































“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Robbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqaroh: 275)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَهِ صَلَى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ الرِبَا سَبْعُونَّ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنّْ يَنْكِ الرَجُلُ أُمَهُ
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu ia berkata. “Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba memilik 70 jenis dosa. dan yang paling rendah (ringan dosanya) adalah layaknya seorang lelaki mengawini ibunya.” (Shohih Ibnu Majah Al-Albany: 1858-2304. Ath-Ta’liq Ar-Raghib (3/50 dan 51), Ahadits Al Buyu’.)
35) Kami beriman bahwa siapa yang meyakini ada yang lebih baik dari hukum Alloh dan RosulNya atau meyakini ada hukum yang sama dengannya maka dia kafir keluar dari islam.




















“karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah: 44)












“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al-Maaidah: 50)




















“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
30
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)
Jabir bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu berkata:
أَنَ عُمَّرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَبِيَ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْ أل الْكُتُ .ِِ فَقَرَأَهُ
النَبِيُ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ فَغَضِ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوّْنَ فِيّْهَا، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَذِي نَفْسِي بِيَّدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيّْضَاءَ نَقِيَّةً،
لاَ تَسْأَلُوّْلُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُّخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِبُوّْا بِهِ أَوْ بِبَاطِ فَتُصَّدِقُوّْا بِهِ، وَالَذِي نَفْسِي بِيَّدِهِ لَوّْ أَنَ مُوّْسَى عَلَيّْهِ السَلاَمُ كَانَ
حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَ أَنْ يَتَبِعَنِي
“Umar ibnul Khoththob rodhiallohu ‘anhu datang kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahlul kitab. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam pun membacanya lalu beliau marah seraya bersabda: “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khoththob? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahlul kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.” (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan Ad-Darimi dalam muqaddimah kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibani dalam kitabnya As-Sunnah no. 50. Hadits ini dihasankan oleh imam ahlul hadits di jaman ini Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As-Sunnah dan Irwa`ul Ghalil no. 1589)
Dalam riwayat Ad-Darimi datang dengan lafadz:
أَنَ عُمَّرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى رَسُوّْلَ اللهَ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ بِِنُسْخَةٍ مِنَ التَوّْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوّْلَ اللهِ
لذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَوّْرَاةِ . فَسَكَتَ، فَجَعَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوّْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَّاكِ ، مَا تَرى مَا بِوَّجْهِ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ. فَنَظَرَ عُمَّرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوّْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ فَقَالَ: أَعُوّْذُ
بِاللهِ مِنْ غَضَ اللهِ وَغَضَ رَسُوّْلِهِ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ، رَضِيّْنَا بِاللهِ رَبًا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِحُمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوّْلُ اللهِ
صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ: وَالَذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَّدِهِ لَوّْ بَدَالَكُم مُوّْسَى فَاتَبَعْتُمُّوّْهُ وَتَرَكْتُمُّوّْنِي، لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَّاءِ السَبِيّْ ، وَلَوّ
كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَبَعَنِيْ
‘Umar ibnul Khoththob rodhiallohu ‘anhu datang kepada Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata: “Ya Rosulullah, ini salinan dari kitab Taurat.” Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam diam, lalu mulailah ‘Umar membacanya dalam keadaan wajah beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam berubah. Melihat hal itu Abu Bakar berkata kepada ‘Umar: “Betapa ibumu kehilangan kamu, tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam ?” Umar melihat wajah Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam (dan ia menangkap perubahan tersebut), maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Alloh dari kemurkaan Alloh dan RosulNya. Kami ridha Alloh sebagai Robb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.” Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan ia menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”
36) Kami beriman bahwa tidak boleh memberontak kepada penguasa yang masih menegakkan sholat, dan demonstrasi termasuk pemberontakan yang diharomkan.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
31































“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)

































“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Alloh kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisaa’: 83)
Nabi ShollAllohu ‘alayhi wasallam, bersabda :
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian mencintai mereka dan merekapun mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan merekapun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan,
شِرَارُ أَئِمَّّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوّْنَهُمْ وَيُبْغِضُوّْنَكُمْ وَتَلْعَنُوّْنَهُمْ وَيَلْعَنُوّْنَكُمْ .
“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian.“
Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)?“
Beliau mengatakan:
لاَ، مَا أَقَامُوّْا فِيّْكُمُ الصَّّلاَةَ
“Jangan, selama mereka mendirikan sholat di tengah-tengah kalian.”
وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيّْئًا تَكْرَلُوّْنَهُ فَاكْرَلُوّا عَمَّلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوّا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan.“ [Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rohimahulloh dalam Kitabul Imarah, Bab : “Khiyyarul ‘Aimmah wa Siraruhum” dari hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i]
37) Kami beriman bahwa jihad di jalan Alloh tetap ada pensyari’atannya sampai kiamat dan siapa yang mati tanpa ada keinginan untuk mati syahid di hatinya maka dia mati diatas cabang kemunafiqan.


















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
32
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Alloh Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfaal: 39)






























“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan RosulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Alloh), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (Attaubah: 29)














“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (Attahriim: 9)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan rodhiallohu ‘anhu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله به خيّرا يفقه في الدين، ولا يزال عصّابة من المّسلمّيّن يقاتلوّن على الحقّ ظالرين على من
ناوألم إلى يوّم القيّامة.
“Siapa yang Alloh kehendaki padanya kebaikan maka Alloh akan membuatnya faham dalam agama. Dan akan senantiasa ada sebagian dari muslimin yang berperang diatas kebenaran dalam keadaan nampak diatas siapa yang memusuhi mereka sampai hari kiamat.” (HR. Bukhory no. 71, 3116, 3641, 7312, 7460 dan Muslim no. 1037 dan lafadz darinya)
من مات ولم يغز ولم يحدث نفسه به مات على شعبة من نفاق.
“Barangsiapa yang mati dan belum berperang dan belum mengatakan pada dirinya (untuk berperang) dengannya maka dia mati diatas cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim: 1910, Abu Dawud: 2502, An-Nasa’i: 6/7)
38) Kami beriman bahwa bom bunuh diri bukanlah jihad tapi dia adalah dosa besar dan kedzoliman.


























“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisaa’: 29)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
33

















“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy-Syuuro: 42)
Diriwayatkan oleh Bukhari (5778) dan Muslim (158) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(( من قت نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوّجأ بها في بطّنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيّها أبدا ومن شرب سمّا
فقت تفسه فهوّ يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيّها أبدا ومن تردى من جب فقت نفسه فهوّ يتردى في نار جهنم خالدا
مخلدا فيّها أبدا ))
“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi di tangannya, dia (akan) menikam perutnya di dalam neraka jahannam yang kekal (nantinya), (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang meminum racun lalu bunuh diri dengannya, maka dia (akan) meminumnya perlahan-lahan di dalam neraka jahannam yang kekal, (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam yang kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”
Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin Dhahhak radhyiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(( ومن قت نفسه بشيّئ في الدنيّا عذب به يوّم القيّامة ))
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Khaibar. Kemudian beliau berkata pada seseorang yang mengaku dirinya muslim: “Orang ini dari penduduk neraka.” Ketika terjadi pertempuran, orang tersebut bertempur dengan sengitnya lalu terluka. Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, yang engkau katakan bahwa dia dari penduduk neraka, sesungguhnya pada hari ini dia ikut bertempur dengan sengitnya, dan dia telah mati.” Jawab Rasulullah shallallajhu ‘alaihi wasallam: “(Ia) masuk neraka.” Hampir saja sebagian manusia ragu (dengan ucapan tersebut). Ketika mereka dalam keadaan demikian, lalu mereka dikabari bahwa dia belum mati akan tetapi terluka dengan luka yang sangat parah. Ketika malam hari dia tidak sabar lagi dan bunuh diri. Lalu dikabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal tersebut, lalu beliau berkata: “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Beliau memerintahkan Bilal untuk berteriak di hadapan manusia:
(( إنه لا يدخ الجنة إلا نفس مسلمّة وإن الله ليّؤيد لذا الدين بالرج الفاجر ))
“Sesungguhnya tidaklah ada yang masuk surga kecuali jiwa yang muslim, dan sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan laki-laki yang fajir (berbuat dosa).”
39) Kami beriman bahwa siapa yang membangun wala’ dan baro’nya diatas kebatilan maka dia itu hizby yang sesat.


















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
34
“Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Alloh. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Alloh adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 19)
Berkata imam Bukhory rohimahulloh ta’ala:
باب: ما ينهى من دعوّى الجالليّة. حدثنا محمّد: أخبرنا مخلد بن يزيد: أخبرنا ابن جريج قال: أخبرني عمّرو بن
دينار: أنه سمّع جابرا رضي الله عنه يقوّل: غزونا مع رسوّل الله صلى الله عليّه وسلم وقد ثاب معه ناس من
المّهاجرين حتى كثّروا، وكان من المّهاجرين رج لعاب، فكسع أنصّاريا، فغض الأنصّاري غضبا شديدا حتى
تداعوّا، وقال الأنصّاري: يا للأنصّار، وقال المّهاجري: يا للمّهاجرين، فخرج النبي صلى الله عليّه وسلم فقال: )ما بال
دعوّى أل الجالليّة؟ ثم قال: ما شأنهم(. فأخبر بكسعة المّهاجري الأنصّاري، قال: فقال النبي صلى الله عليّه وسلم:
)دعوّلا فإنها خبيّثّة(. وقال عبد الله بن أبي سلوّل: أقد تداعوّا عليّنا، لئن رجعنا إلى المّدينة ليّخرجن الأعز منها الأذل،
فقال عمّر: ألا نقت يا رسوّل الله لذا الخبيّث؟ لعبد الله، فقال النبي صلى الله عليّه وسلم: )لا يتحدث الناس أنه كان يقت
أصحابه(.
[ , 3330 ]4624 ،4622
Bab: Apa-apa yang dilarang dari seruan Jahiliyah, Telah bercerita kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar bahwa dia mendengar Jabir radliallahu ‘anhu berkata; “Kami pernah berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu orang-orang Kaum Muhajirin sudah bergabung dan jumlah mereka semakin banyak. Di antara Kaum Muhajirin itu ada seorang laki- laki yang pandai memainkan senjata lalu dia memukul pantat seorang shahabat Anshar sehingga menjadikan orang Anshar ini sangat marah, lalu dia berseru seraya berkata; “Wahai Kaum Anshar”. Laki-laki Muhajirin tadi menimpali dan berseru pula; “Wahai Kaum Muhajirin”. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan bersabda: “Mengapa seruan-seruan kaum jahiliyah masih saja terus dipertahankan? ‘. Kemudian beliau bertanya; “Apa yang terjadi dengan mereka?”. Lalu beliau diberitahu bahwa ada seorang shahabat Muhajirin yang memukul pantat seorang shahabat Anshar. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tinggalkanlah seruan itu karena hal semacam itu tercela (buruk) “. Setelah itu ‘Abdullah bin Ubbay bin Salul berkata; “Apakah mereka (Kaum Muhajirin) tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kami?. Seandainya kita kembali ke Madinah maka orang yang kuat pasti akan mengusir orang yang hina” (Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataannya ini dalam QS al-Munafiqun ayat 8). Spontan’Umar berkata; “Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja orang tercela ini, wahai Rasulullah!” Yang dimaksudnya adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, agar orang-orang tidakberdalih bahwa dia (Muhammad) membunuh shahabatnya’. (Shohih Bukhory: 4624, 4622, 3330)
40) Kami beriman bahwa ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya dalam neraka kecuali satu, yaitu ahlussunnah wal jama’ah, salafy.




















“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
35
beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Al-An’aam: 153)
Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( افترقت اليّهوّد على إحدى وسبعيّن فرقة . فوّاحدة في الجنة. وسبعوّن في النار، وافترقت النصّارى على
ثنتيّن وسبعيّن فرقة . فإحدى وسبعوّن في النار، وواحدة في الجنة. والذي نفس محمّد بيّده! لتفترقن أمتي على ثلاث
وسبعيّن فرقة. واحدة في الجنة و ثنتان سبعوّن في النار )). قيّ : يا رسوّل الله! من لم؟ قال ))الجمّاعة )).
“Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk surga dan 70 lainnya ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan ke neraka, hanya satu yang masuk surga. Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya ke neraka.” Rosululloh ditanya : “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab : “Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3992, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no.63, Al Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah no.149, Al Ashbahani dalam Al Hujjah (19-20). Dinyatakan hasan oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Bashoir Dzawisy Syarof hal. 92-93)
41) Kami beriman bahwa ahlul hadits merekalah ahlussunnah.
















“Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah Aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imron: 31)
Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَتَزَالُ مِنْ أُمَتِيْ أُمَةٌ قَائِمَّةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُلُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَى يَأْتِيَّهُمْ أَمْرُ اللهِ وَلُمْ عَلَى ذَلِكَ
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Alloh, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Alloh dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” (HR. Al-Bukhori (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174), 1924), dari Mu’awiyah RodhiyAllohu anhu dan ‘Uqbah bin ‘Amir.)
42) Kami beriman bahwa tidak boleh kita taklid kepada seorang pun kecuali kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.




















“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)


























هذه عقيدتنا مع دلاإلها
36
”Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Alloh dan mengikuti Rosul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (Al-maaidah: 104)

















“Dan apa yang diberikan Rosul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَمَّا لَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثّْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَّائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوّا مِنْهُ مَا
اسْتَطَّعْتُمْ وَإِذَا نَهَيّْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوّْهُ
“Biarkanlah aku dengan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan berselisih dengan Nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka tinggalkanlah!” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.” (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan Ad-Darimi dalam muqaddimah kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibani dalam kitabnya As-Sunnah no. 50. Hadits ini dihasankan oleh imam ahlul hadits di jaman ini Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As-Sunnah dan Irwa`ul Ghalil no. 1589)
43) Kami beriman bahwa mengusap khuf/sepatu ketika wudhu adalah shohih pensyari’atannya.
Hadits dalam Ash Shohihain dari Al Mughirah bin Syu’bah RodhiAllohu ‘anhu, beliau berkata:
كنت مع النبي في سفر، فتوضأ، فأهويت لأنزع خفيه فقال: ))دعهما فإني أدخلّتهما طاهرتين(( فمسح علّيهما
“Dahulu saya pernah bersama Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, lalu beliau berwudhu. Sayapun merunduk untuk melepaskan kedua khuf beliau, tetapi beliau mengatakan, “Biarkan, sesungguhnya saya memakainya dalam keadaan suci.” “
Dan juga berdasarkan hadits Shofwan bin ‘Assal RodhiAllohu ‘anhu, beliau berkata :
أمرنا رسول الله أن نمسح علّى الخفين إذا نحن أدخلّناهما علّى طهر
“Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengusap dua khuf jika kami memakainya dalam keadaan suci.” (Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Khuzaimah. Al Khoththobi berkata : Hadits tersebut adalah hadits yang sanadnya shohih. Lihat Nailul Author 1/230. Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini dalam Fathul Bari 1/309).
Dari shohabat ‘Ali bin Abi Tholib RodhiyAllohu ‘anhu, beliau berkata:
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
37
جعل النبي صلى الله عليه وسلم للمقيم يوماً وليلة ، وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،يعني في المسح على الخفين
“Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam menetapkan sehari semalam bagi orang yang mukim & tiga hari tiga malam bagi orang yang musafir.“(penetapan ini) yaitu dlm perkara mengusap dua khuf.” [HR. Muslim, kitaabuth-thoharoh no. 276]
Dari Shofwan bin ‘Assal RodhiAllohu ‘anhu beliau berkata,
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كنا سفراً ألا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم
“Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami jika kami safar agar kami tak melepas khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bagi siapa saja yang junub, akan tetapi ( tak perlu dilepas) jika karena buang air besar, kencing & tidur.” [Hadits shohih riwayat Ahmad, Nasai, & Tirmidzi , irwaul gholil no 104]
44) Kami beriman bahwa tidak boleh memberat-beratkan diri untuk safar dalam rangka beribadah kecuali ke tiga masjid yaitu masjidil harom, masjidin nabawy, dan majidil aqso, dan ketiganya adalah seutama-utama masjid di muka bumi.























“Maha suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Isro’: 1)
Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا يُسَافَرُ إِلىَ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدُ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِي وَمَسْجِدِ إِيْلِيَاءَ.
“Safar hanyalah boleh dilakukan ke tiga masjid: Masjidil Ka’bah (Masjidil Haram), Masjidku (Nabawi) dan Masjid Iliya’ (Baitul Maqdis)”. (HR. Muslim dalam Shohihnya no 1397)
“Tidak boleh mengadakan perjalanan jauh (untuk ibadah) kecuali menuju 3 masjid, masjidil haram, masjid Nabawi, dan masjidil Aqsho.” (HR. Bukhori 1189).
Berkata Imam Bukhory rohimahulloh:
حَدَثَنَا عَبْدُ اللَهِ بْنُ يُوّسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ رَبَاحٍ وَعُبَيّْدِ اللَهِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَهِ الْأَغَرِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَهِ
الْأَغَرِ عَنْ أَبِي لُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَهُ عَنْهُ أَنَ النَبِيَ صَلَى اللَهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي لَذَا خَيّْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ
فِيّمَّا سِوَّاهُ إِلَا الْمَّسْجِدَ الْحَرَامَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Rabah dan ‘Ubaidillah bin Abu ‘Abdullah Al Ghorri dari Abu ‘Abdullah Al Ghorri dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada masjid lain kecuali pada Al Masjidil Haram”. (Shohih Bukhory no. 1133)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
38
45) Kami beriman bahwa fatwa ulama tidaklah ma’shum, maka yang benar kita ambil dan yang keliru kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits shohih sesuai dengan pemahaman salafussholeh.































“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)
Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ، فَاجْتَهَدَ ثُمَ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ. وَإِذَا حَكَمَ، فَاجْتَهَدَ ثُمَ أَخْطَّأَ، فَلَهُ أَجْرٌ
“Jika seorang hakim (ulama’) hendak memutuskan (suatu perkara), lalu ia berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika mau memutuskan perkara, lalu ia berijtihad, kemudian keliru, maka ia akan mendapatkan satu pahala”. [HR. Al-Bukhoriy (7352), dan Muslim (1716)]
46) Kami beriman bahwa nanti akan keluar dajjal sang pendusta kafir yang buta satu matanya diakhir zaman.
Asy-Sya’bi rohimahullohu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais RodhiyAllohu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.
Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-sholatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas sholat bersama Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shof wanita yang langsung berada di belakang shof laki-laki. Tatkala Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam selesai dari sholatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat sholatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.’ Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Alloh-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.
Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
39
menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khowatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari ARob. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’
Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’ Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’ ‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya. Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thobariyyah.’ Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’ ‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya. Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’ Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar.’ Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’ ‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya. Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’ Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’ Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang ARob memeranginya?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang ARob?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang ARob di sekitarnya dan mereka taat kepadanya. Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’ Kami katakan: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thoibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’
Fathimah mengatakan: ‘Maka Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar sambil mengatakan: ‘Inilah Thoibah, inilah Thoibah, inilah Thoibah, yakni Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’ Orang-orang menjawab: ‘Ya.’ Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman- tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur-.’
Fathimah mengatakan: “Ini saya hafal dari Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Qishshotul Jassasah)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
40
47) Kami beriman bahwa siapa yang mendatangi dukun dan tukang sihir kemudian mempercayainya maka dia kafir keluar dari islam.



















































































“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 102)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى كَالِنًا أَوْ عَرَافًا فَصَّدَقَهُ بِمَّا يَقُوّْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ
“Barang siapa yang mendatangi dukun atau arraf (peramal) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/429/no.9532), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/8/no.15), Al Baihaqi (7/198/no.16274), dan di-shohih-kan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shohih At-Targhib (3047)
48) Kami beriman bahwa di akhir zaman akan lahir imam mahdi yang menegakkan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memerangi dajjal.
Beberapa Hadits tentang Al-Imam Al-Mahdi;
1. Dari Abdulloh bin Mas’ud RodhiyAllohu ‘anhu, dari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ – قَالَ زَائِدَةُ فِي حَدِيْثِهِ – لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّي – أَوْ مِنْ
أَهْلِ بَيْتِي – يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
“Bila tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari –Za`idah (salah seorang rawi) mengatakan dalam haditsnya– tentu Alloh akan panjangkan hari tersebut, sehingga Alloh utus padanya seorang lelaki dariku –atau dari keluargaku–. Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia memenuhi bumi dengan keadilan
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
41
sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kedzaliman dan keculasan.” (Hasan Shohih, HR. Abu Dawud, Shohih Sunan no. 4282; sanadnya jayyid menurut Ibnul Qayyim rohimahullohu dalam Al-Manarul Munif; At-Tirmidzi no. 2230, 2231; Ibnu Hibban no. 6824, 6825)
2. Dari ‘Ali (bin Abi Tholib) RodhiyAllohu ‘anhudari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا
“Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Alloh akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (Shohih, HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)
3. Dari Ummu Salamah RodhiyAllohu ‘anha, ia mengatakan: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ
“Al-Mahdi dari keluargaku dari putra Fathimah.” (Shohih, HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shohih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086, dan Al-Hakim no. 8735, 8736)
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ
“Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083, At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232, Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)
5. Dari Abu Hurairoh RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟
“Bagaimana dengan kalian jika turun kepada kalian putra Maryam, sementara imam kalian dari kalian?” (Shohih, HR. Al-Bukhori, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab Nuzul ‘Isa ibni Maryam, no. 3449; Muslim dalam Kitabul Iman Bab Fi Nuzul Ibni Maryam, 2/369, 390)
6. Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَّ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ : تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ
“Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Alloh untuk umat ini’.” (Shohih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tho`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)
49) Kami beriman bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam belumlah wafat akan tetapi dia diangkat kelangit dan akan turun di akhir zaman membunuh dajjal.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
42
































































“Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rosul Alloh”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya. dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Annisaa’: 157-159)
Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَّ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ : تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ
“Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Alloh untuk umat ini’.” (Shohih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tho`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)
Sabda Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam:
وَالَذِيْ نَفْسِيْ بِيَّدِهِ، لَيُّوّْشِكَنَ أَنْ يَنْزِلَ فِيّْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليّهِ السَلام حَكَمًّا عَدْلاً، فَيَّكْسِرَ الصَّلِيّْ ،َِ وَيَقْتُ الْخِنْزِيْرَ،
وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيّْ الْمَّالُ حَتَى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ .
“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (HR. Al-Bukhori kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Nuzuul ‘Isa Ibni Maryam (no. 3448), Fat-hul Baari (VI/490-494) dan Muslim Kitaabul Iimaan bab Nuzuul ‘Isa Ibni Maryam Haakiman bi Syari’ati Nabiyyinaa Muhammad j (no.155 (242)), dari Sahabat Abu Hurairoh RodhiyAllohu anhu.)
Dan Sabda Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam:
“Para Nabi itu bersaudara seayah, sedangkan ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka satu. Aku adalah manusia yang paling dekat terhadap ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi lagi antara dia dan aku. Dan dia akan turun (kembali). Jika kalian melihatnya, maka kenalilah oleh kalian bahwa dia adalah laki-laki yang sedang tingginya, berkulit putih kemerah-merahan, dia memakai dua buah baju yang agak kemerahan, seakan di kepalanya meneteskan air walaupun tidak basah. Dia akan mematahkan salib,
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
43
membunuh babi dan menghapus jizyah serta menyeru manusia kepada Islam. Di zamannya, Alloh akan menghancurkan seluruh agama kecuali Islam. Dan Alloh akan membunuh al-Masih ad-Dajjal (melalui isa). Kemudian terciptalah keamanan di muka bumi, hingga singa dengan unta mencari makan (di tempat yang sama) dan (demikian pula) harimau dan sapi, juga serigala dan kambing, serta anak-anak kecil bermain-main dengan ular tanpa membahayakan mereka. Beliau tinggal selama empat puluh tahun, kemudian wafat dan kaum Muslimin mensholatkannya.” (HR. Abu Dawud (no. 4324), Ibnu Hibban (IX/450, no. 6775, 6782 dalam Ta’liiqatul Hisaan) dan Ahmad (II/406, 437), dari Sahabat Abu Hurairoh RodhiyAllohu anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shohiihah (V/214 no. 2182).)
50) Kami beriman bahwa suatu hari nanti islam akan tegak diseluruh permukaan bumi di akhir zaman.















”Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. AtTaubah: 33)
















“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28)















“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash-shof: 9)
Dari ‘Ali (bin Abi Tholib) RodhiyAllohu ‘anhu dari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, mengatakan:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا
“Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Alloh akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi, Di Shohihkan Al-Albany rohimahulloh dalam Shohih Sunan Aby Dawud, dan Ar-Raudh An-Nadhir (2/25))
51) Kami beriman akan tanda-tanda kiamat berupa keluarnya ya’juj dan ma’juj, terjadinya gerhana, hewan melata keluar dari dalam bumi, terbitnya matahari dari barat, dan sebagainya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shohih.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
44








































“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan Malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau Dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu Sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)”. (Al-An’aam: 158)











































“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (mereka berkata): “Aduhai, celakalah Kami, Sesungguhnya Kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan Kami adalah orang-orang yang zalim”. Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (Al-Anbiyaa’: 96-98)


















“Dan apabila Perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)
Dalam hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari RodhiyAllohu ‘anhu:
اطَلَعَ النَبِيُ صَلَى اللهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ عَلَيّْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوّا: نَذْكُرُ السَاعَةَ. قَالَ: إِنَهَا لَنْ تَقُوّْمَ
حَتَى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُخَانَ وَالدَجَالَ وَالدَابَةَ وَطُلُوّْعَ الشَمّْسِمِّنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلَ عِيّْسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيّْهِ
السَلاَمُ وَيَأَجُوّْجَ وَمَأْجُوّْجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوّْفٍخَسْفٌ بِالْمَّشْرِقِوَّخَسْفٌ بِالْمَّغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ
مِنْ الْيَّمَّنِ تَطّْرُدُ النَاسَ إِلَى مَحْشَرِلِمْ
Rosululloh melihat kami ketika kami tengah berbincang-bincang. Beliau berkata: “Apa yang kalian perbincangkan? ”Kami menjawab: “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan: “Dukhon (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa ‘alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat, dan di jazirah ARob, yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (menggiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)
Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
45
إِنَ السَاعَةَ لاَ تَكُوّْنُ حَتَى تَكُوّْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَّشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَّغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ،
وَالدُخَانُ، وَالدَجَالُ، ودَابَةٌ، وَيَأْجُوّْجُ وَمَأْجُوّْجُ، وَطُلُوّْعُ الشَمّْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْقَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَ النَاسَ،
وَنُزُوْلُ عِيّْسَى بْنِ مَرْيَمَ
“Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) pe-nenggelaman permukaan bumi di Jazirah ARob, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [HR. Muslim (no. 2901 (40)), Abu Dawud (no. 4311), at-Tirmidzi (no. 2183), Ibnu Majah (no. 4055),Imam Ahmad (IV/6), dari Sahabat Hudzaifah bin Asiid RodhiyAllohu anhu dan ini lafazh Muslim. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiiq Musnadil Imaam Ahmad (no. 16087)]
52) Kami beriman bahwa Alloh Yang Maha Raja, yang hanya Dia Raja diRaja akan menggenggam sekali genggaman tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dihari kiamat.



















“Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Robb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Azzumar: 67)
Sesungguhnya Abu Hurairoh telah berkata telah bersabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم : “Alloh عزوجل menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat (menggulung) langit (dalam riwayat lain: langit-langit) dengan tangan kanan-Nya, kemudian Alloh عزوجل berkata: “ Akulah raja! Manakah raja-raja bumi (dunia)?”. (Hadits shohih riwayat. Bukhori no. 4812,6519,7382 & 7413 dan muslim no. 2787 )
Dari Ibnu Umar رضي الله عنه dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: “Seseungguhnya Alloh عزوجل menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit berada di tangan Kanan-Nya, kemudian Dia berkata: “Akulah Raja!”. (Hadits shohih riwayat. Bukhori no 7412 (dan ini adalah lafadznya) dan muslim no. 2788)
53) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala akan mengumpulkan manusia di padang mahsyar seluruhnya.
وَعُرِضُوا عَلَّى رَبِّكَ صَفًّاا
“Dan mereka akan dibwa ke hadapan Robbmu dengan berbaris” (al-Kahfi: 48)
وَالْمَلَّكُ عَلَّى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Robbmu) tidak sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Alloh).” (al-Haqqah: 18)
Pada hari kiamat itu, Alloh mengumpulkan semua hamba-Nya, sebagaimana Firman-Nya:
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
46
لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيه
“Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya.” (an-Nisa’: 87)
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ
“(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Alloh mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.” (at-Taghabun: 9)
الآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ
“Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh semua makhluk)” (Hud: 103)
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ. وَالْآخِرِينَلَّمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُّومٍ
“Katakanlah, “sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (al-Waqi’ah: 49-50)
يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُواْ للّّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap hadirat Alloh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Ibrahim: 48)
سَهْ بْنَ سَعْدٍ قَالَ سَمِّعْتُ النَبِيَ صَلَى اللَهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ يَقُوّلُ يُحْشَرُ النَاسُ يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيّْضَاءَ عَفْرَاءَ
كَقُرْصَةِ نَقِيٍ قَالَ سَهْ أَوْ غَيّْرُهُ لَيّْسَ فِيّهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ
Nabi SholAllohu ‘alaihi wasssalam bersabda: “pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpuljan di bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipi dan datar seperti roti bulat yang putih tidak ada tanda (bangunan milik siapapun di atasnya).” (HR. Bukhory: 6521)
54) Kami beriman akan diusirnya ahlul bid’ah dari telaga Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam di padang mahsyar.













“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Robbmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (Al-kautsar: 1-3)
Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab shohihnya dari Anas bin Malik rodhiallhu ‘anhu ia berkata, “Rosululloh sholAllohu ‘alayhi wa sallam tertunduk sesaat, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan berkata, “Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku satu surah.” Lalu beliau membaca,
بِسْمِ اللهِ الرَحْمّنِ الرَحِيّمِ إِنَا أَعْطَّيّْنَاكَ الْكَوّْثَرَ
Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al kautsar.” (Qs. Al Kautsar). Hingga beliau menamatkannya. Lalu beliau bertanya, “Tahukah kamu apakah Al Kautsar itu?” Para shohabat berkata, “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Itu adalah sungai yang diberikan oleh Alloh kepadaku didalam surga, terdapat kebaikan yang sangat
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
47
banyak didalamnya. Pada hari kiamat nanti umatku akan mendatanginya. Gelas yang tersedia padanya sejumlah bintang di langit. lalu ada seseorang yang dijauhkan darinya, maka aku berkata, “Sesungguhnya ia termasuk umatku..” Namun dikatakan, “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah ia lakukan sepeninggalmu.” (Hadits diriwayatkan oleh Muslim (892), Tirmidzi (2465)
55) Kami beriman akan adanya syafa’at bagi ahli tauhid (yang menyembah hanya kepada Alloh).
قُ لِلَهِ الشَفَاعَةُ جَمِّيّعًا
“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allohlah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar: 44)
Abu Hurairoh RodhiAllohu’anhu bahwasanya dia bertanya kepada Rosululloh ShollAllohu’alaihi wasallam,
يَا رَسُوّْلَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ؟ قَالَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ لَذَا الْحَدِيْثِ أَحَدٌ أَوْلَى مِنْكَ
لِحِرْسِكَ عَلَى الْحَدِيْثِ. قَالَ : إِنَ أَسْعَدَ النَاسِ بِشَفَاعَتِي يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ خَالِصًّا مِنْ قَلْ نَفْسِهِ
“Ya Rosululloh, siapakah yang paling beruntung dengan syafa’at engkau kelak pada hari kiamat?” Rosululloh ShollAllohu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.” Beliau ShollAllohu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illAlloh dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya. (HR. Imam Bukhori no. 99)
56) Kami beriman akan adanya siroth yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka yang akan dilewati jin dan manusia.




















“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Robbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.” (Maryam: 71-72)
Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu : “Telah sampai (berita) kepadaku, bahwa jembatan tersebut lebih tipis/halus daripada rambut, dan lebih tajam daripada pedang…” (HR. Imam Muslim no. 183)
Semua manusia akan melewati shiroth tersebut sesuai dengan kadar amalannya ketika masih hidup di dunia. Diantara mereka ada yang melintasi shiroth itu seperti kejapan mata (sekejap mata), ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin (yang bertiup kencang), ada yang seperti kuda yang berlari kencang, ada yang seperti menunggang onta, ada yang seperti orang yang berlari kencang, ada yang seperti orang yang berjalan kaki, ada yang seperti orang yang merangkak, ada yang belum sempat berjalan tapi langsung ditarik oleh pengait-pengait (seperti supit) yang ada di kanan dan kiri shiroth tersebut sehingga langsung terjun ke neraka jahannam, dan lainnya. (silahkan periksa : Hadits Abu Huroiroh (Shohih Al-Bukhori no. 806, Muslim no. 182 dan 195) dan Hadits Abu Sa’id Al-Khudri dalam Shohih Al-Bukhori no. 7440 dan Muslim no. 183)
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
48
57) Kami beriman bahwa surga yang penuh kenikmatan telah ada sekarang dan begitu pula neraka yang penuh ‘adzab (nas’alulloohal jannah wa na’udzubillahi min ‘adzaabinnaar).























































“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqoroh 24-25)
Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اطَلَعْتُ فِي الْجَنَةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَلَعْتُ فِي النَارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِسَاءَ
“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)
58) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala dengan rahmatNya akan memasukkan sekelompok manusia ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa ‘adzab di akhirat nanti.
Hushoin bin Abdurrohman -rohimahulloh- berkata:
كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلّْتُ أَنَا ثُمَ قُلّْتُ أَمَا إِنِي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَّاةٍ
وَلَكِنِي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلّْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَّكَ عَلَّى ذَلِكَ قُلّْتُ حَدِيثٌ حَدَثَنَاهُ الشَعْبِيُ فَقَالَ وَمَا حَدَثَكُمْ
الشَعْبِيُ قُلّْتُ حَدَثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَّمِيِ أَنَهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا
سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَثَنَا ابْنُ عَبَاسٍ عَنْ النَبِيِ صَلَّى اللَّهُ عَلَّيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَّيَ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَبِيَ وَمَعَهُ الرُهَيْطُ وَالنَبِيَ
وَمَعَهُ الرَجُلُ وَالرَجُلَّانِ وَالنَبِيَ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَهُمْ أُمَتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ
عَلَّيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ
لِي هَذِهِ أُمَتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُّونَ الْجَنَةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَ نَهَضَّ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَاسُ فِي أُولَئِكَ
الَذِينَ يَدْخُلُّونَ الْجَنَةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَّعَلَّهُمْ الَذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَّيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ
بَعْضُهُمْ فَلَّعَلَّهُمْ الَذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَّامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَّيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَّيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ مَا الَذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَرُونَ وَعَلَّى رَبِهِمْ يَتَوَكَلُّونَ فَقَامَ
عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَّنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَّنِي مِنْهُمْ فَقَالَ
سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ
“Saya pernah bersama Said bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam? ‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan sholat, akan tetapi aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat? ‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal tersebut? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy-Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi,
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
49
‘Apa yang diceritakan asy-Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushoib al-Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Telah berbuat baik orang melaksanakan sesuai dengan apa (dalil) yang dia dengar. Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku semua umat. Lalu aku melihat seorang nabi yang bersamanya 3 sampai 9 orang, ada juga nabi yang bersama dengannya hanya satu atau dua orang lelaki saja, bahkan ada seorang nabi dan tidak ada seorangpun yang bersamanya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa alaihissalam dan kaumnya. Tetapi lihatlah ke ufuk’. Lalu aku pun melihatnya, ternyata ada kumpulan besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan besar yang berarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan azab.” Setelah menceritakan itu, Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam Surga tanpa dihisab dan azab. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Alloh.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya: “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Maka Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak meyakini thiyarah (pamali) dan hanya kepada Alloh mereka bertawakal.” Ukkasyah bin Mihshon berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Alloh agar aku termasuk dari kalangan mereka.” Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu termasuk dari kalangan mereka.” Kemudian seorang lelaki lain berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Alloh agar aku termasuk dari kalangan mereka.” Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Al-Bukhori no. 5270 dan Muslim no. 323)
Kalimat yang ditebalkan di atas telah dikritisi oleh sebagian ulama, di antaranya Imam Ad-Daraquthni dan selainnya. Karena kandungannya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang membolehkan bahkan menganjurkan seseorang yang mampu untuk meruqyah saudaranya, tanpa perlu dia diminta.
Dalam riwayat Al-Bukhori disebutkan:
هُمْ الَذِينَ لَا يَتَطَيَرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَّى رَبِهِمْ يَتَوَكَلُّونَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meyakini thiyarah (pamali), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Robb merekalah mereka bertawakkal.”
59) Kami beriman bahwa pemimpin seluruh manusia di akhirat adalah Rosullulloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam , beliaulah yang membuka dan masuk surga pertama kali dan ummat beliau yang pertama kali masuk ke dalam surga.
Rosululloh sholAllohu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَنَا أَكْثَّرُ اْلأَنْبِيَّاءِ تَبَعًا يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ وَأَنَا أَوَلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَةِ
“Saya adalah orang yang paling banyak pengikutnya pada Hari Kiamat dan saya adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu Al Jannah.” (HR. Muslim no. 196) Masih dari shohabat Anas bin Malik namun dalam riwayat At Tirmidzi, dengan lafadz: “Saya
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
50
adalah orang yang pertama kali keluar jika mereka dibangkitkan. Saya adalah orang pertama kali bicara, jika mereka diam. Saya adalah pemimpin mereka, jika mereka dikirim. Saya adalah pemberi syafaat kepada mereka, jika mereka tertahan. Saya adalah pemberi berita gembira, jika mereka putus asa. Panji pujian ada digenggaman tanganku. Kunci-kunci al jannah ada ditanganku. Saya adalah keturunan Adam yang paling mulia di sisi Robb-ku dan tidak ada kebanggaan melebihi hal ini. Saya dikelilingi seribu pelayan setia laksana mutiara yang tersimpan.”
Dari shohabat Abu Hurairoh RodhiAllohu ‘anhu, Rosululloh sholAllohu ‘alaihi wasallam bersabda:
نَحْنُ اْلآخِرُونَ اْلأَوَلُوّنَ يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ وَنَحْنُ أَوَلُ مَنْ يَدْخُ الْجَنَةَ بَيّْدَ أَنَهُمْ أُوتُوّا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِيّنَاهُ مِنْ بَعْدِلِمْ
“Kita adalah umat terakhir namun paling awal pada hari kiamat. Kita adalah umat yang pertama kali masuk al jannah, meskipun mereka diberi kitab sebelum kita, dan kita diberi kitab sesudah mereka. ” (HR. Muslim no. 855)
60) Kami beriman bahwa penuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju surga.























“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al-Hajj: 54)
Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِي فِيّْهِ عِلْمًّا سَهَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَةِ، وَإِنَ الْمَّلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَّالِ الْعِلْمِ
رِضًا بِمَّا يَصّْنَعُ، وَإِنَ الْعَالِمَ لَيَّسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَمَّا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَى الْحِيّْتَانُ فِي الْمَّاءِ .
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Alloh memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thohawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ RodhiyAllohu’anhu]
61) Kami beriman bahwa ummat Rosullulloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang faqirlah yang terbanyak di dalam surga, nas’alulloohal jannah.
















“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (Al-Baqoroh: 268)
















هذه عقيدتنا مع دلاإلها
51
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Al-Isro’: 31)
Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda:
اطَلَعْتُ فِي الْجَنَةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَلَعْتُ فِي النَارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِسَاءَ
“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)
62) Kami beriman bahwa penduduk surga lebih sedikit dibandingkan penduduk neraka, dan isi neraka kebanyakannya perempuan, na’udzubillahi min ‘adzaabinnaar.






















“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Alloh). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)
Hadits riwayat Abdulloh bin Masud rodhiallohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Ridakah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami (para sahabat) bertakbir. Beliau bersabda lagi: Ridakah kalian menjadi sepertiga penghuni surga? Kami pun bertakbir. Lalu beliau kembali bersabda: Sungguh, aku berharap kalian dapat menjadi setengah penghuni surga. Aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian. Orang-orang Islam di tengah orang-orang kafir seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih.” (Shohih Muslim No.324)
Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اطَلَعْتُ فِي الْجَنَةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَلَعْتُ فِي النَارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِسَاءَ
“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)
63) Kami beriman bahwa orang munafik akan masuk neraka yang paling bawah.












“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (Annisaa’: 145)
64) Kami beriman bahwa yang paling keras siksanya di neraka adalah tukang gambar (makhluq bernyawa).
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
52
Berkata Imam Bukhory rohimahulloh ta’ala:
حَدَثَنَا الْحُمَّيّْدِيُ حَدَثَنَا سُفْيَّانُ حَدَثَنَا الْأَعْمَّ عَنْ مُسْلِمٍ قَالَ كُنَا مَعَ مَسْرُوقٍ فِي دَارِ يَسَارِ بْنِ نُمَّيّْرٍ فَرَأَى فِي
صُفَتِهِ تَمَّاثِيّ فَقَالَ سَمِّعْتُ عَبْدَ اللَهِ قَالَ سَمِّعْتُ النَبِيَ صَلَى اللَهُ عَلَيّْهِ وَسَلَمَ يَقُوّلُ إِنَ أَشَدَ النَاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَهِ يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ
الْمُّصَّوِّرُونَ
“Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Muslim dia berkata; Kami bersama Masruq berada di rumah Yasar bin Numair, lantas dia melihat patung di dalam (gambar) patung rumahnya, lantas Masruq berkata; “Saya pernah mendengar Abdullah berkata; saya mendengar Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah orang-orang yang suka menggambar.” (Shohih Bukhory no. 5606)
‘Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata: “Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam datang dari safar (bepergian jauh) sementara saat itu aku telah menutupi sahwah (rumah kecilku) ku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni) yang berlukis/ bergambar. Ketika Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:
أَشَدُ النَاسِ عَذَابًا يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ الَذِيْنَ يُضَالُوّْنَ بِخَلْقِّ اللهِ
“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5954, kitab Al-Libas, bab Ma Wuthi’a minat Tashowir dan Muslim no. 5494, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan)
65) Kami beriman bahwa Alloh Al-Ghoffaar akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakinya, dan siapa yang mati diatas kesyirikan akan kekal di dalam neraka.


























“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali-Imron: 91)






















“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Annisaa’: 48)






















“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
53
Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Annisaa’: 116)
66) Kami beriman bahwa akan keluar dari neraka ahli ma’siat (yang muslim) yang didalam hatinya ada keimanan.

















“Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 40)
Beliau ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَّالَذِى نَفْسِي بِيَّدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُّؤْمِنِيّْنَ للهِ يَوّْمَ الْقِيَّامَةِ لإِخْوَّانِهِمُ
الَذِيْنَ فِى النَارِ. يَقُوّْلُوّْنَ : رَبَنَا! كَانُوّْا يَصُّوّْمُوّْنَ مَعَنَا وَيُصَّلُوّْنَ وَيَحُجُوّْنَ . فَيُّقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوّْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَرَمُ
صُوَّرُلُمْ عَلَى النَارِ. فَيُّخْرِجُوّْنَ خَلْقًا كَثِّيّْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَاُر إِلَى نِصّْفِ سَاقَيّْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيّْهِ. ثُمَ يَقُوّْلُوّْنَ : رَبَنَا! مَا بَقِيَ
فِيّْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ . فَيَّقُوّْلُ : اِرْجِعُوّْا! فَمَّنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثّْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيّْرٍ فَأَخْرِجُوّْهُ! فَيُّخْرِجُوّْنَ خَلْقًا كَثِّيّْرًا .
ثُمَ يَقُوّْلُوّْنَ : رَبَنَا! لَمْ نَذَرْ فِيّْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَ يَقُوّْلُ : اِرْجِعُوّْا! فَمَّنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثّْقَالَ نِصّْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيّْرٍ
فَأَخْرِجُوّْهُ ! فَيُّخْرِجُوّْنَ خَلْقًا كَثِّيّْرًا. ثُمَ يَقُوّْلُوّْنَ : رَبَنَا! لَمْ نَذَرْ فِيّْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَ يَقُوّْلُ : اِرْجِعُوّْا! فَمَّنْ وَجَدْتُمْ فِى
قَلْبِهِ مِثّْقَالَ ذَرَةٍ مِنْ خَيّْرٍ فَأَخْرِجُوّْهُ! فَيُّخْرِجُوّْنَ خَلْقًا كَثِّيّْرًا. ثُمَ يَقُوّْلُوّْنَ : رَبَنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيّْهَا خَيّْرًا . وَكَانَ أَبُوّْ سَعِيّْدٍ
الْخُدْرِيِ يَقُوّْلُ: إِنْ لَمْ تُصَّدِقُوّْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : )إَنَ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثّْقَالَ ذَرَةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا
وَيُؤْتِ مِن لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيّمًّا( من سوّرة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم -.
“Demi Alloh Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Alloh untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Alloh pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka. Mereka berkata : “Wahai Robb kami, mereka dahulu berpuasa, sholat dan berhaji bersama-sama kami”. Maka dikatakan (oleh Alloh) kepada mereka : “Keluarkanlah oleh kalian (dari Neraka) orang-orang yang kalian tahu!” Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi Neraka (untuk membakarnya). Kemudian orang-orang Mu’min ini mengeluarkan sejumlah banyak orang yang dibakar oleh Neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya. Kemudian orang-orang Mu’min ini berkata: “Wahai Robb kami, tidak ada lagi di Neraka seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkannya”. Alloh berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat satu dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)!” Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang dari Neraka. Kemudian mereka berkata lagi : “Wahai Robb kami, tidak ada lagi seorangpun yang kami sisakan dari orang yang Engkau perintahkan untuk kami mengeluarkannya”. Alloh berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang. Selanjutnya mereka berkata lagi : “Wahai Robb kami, tidak ada seorangpun yang Engkau perintahkan, kami sisakan (tertinggal di Neraka)”. Alloh berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang. Kemudian mereka berkata : “Wahai Robb kami, tidak lagi kami menyisakan di dalamnya seorangpun yang mempunyai kebaikan”.
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
54
Pada waktu itu Abu Sa’id al Khudri mengatakan: “Apabila kalian tidak mempercayai hadits ini, maka jika kalian suka, bacalah firman Alloh (yang artinya): “Sesungguhnya Alloh tidak menzhalimi seseorang meskipun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Alloh akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar”. (an Nisaa’: 40) … al Hadits”. [HR. Bukhori dan Muslim, Lihat Fathul Bari (XIII/421), hadits no. 7439, Kitab at Tauhid, Bab 24, dengan lafadz berbeda. Dan lihat Shohih Muslim Syarh Nawawi, tahqiq Kholil Ma’mun Syiha (III/32), hadits no. 453. Lafadz hadits di atas adalah lafadz Imam Muslim]
67) Kami beriman bahwa Alloh ta’ala akan dapat dilihat dengan sangat jelas diakhirat nanti tanpa penghalang.
Berkata Imam Muslim rohimahulloh:
81 ( باب معرفة طريق الرؤية ( , 182 ( حدثني زهير بن حرب. حدثنا يعقوب بن إبراهيم. حدثنا أبي عن ابن ( -299
شهاب، عن عطاء بن يزيد الليثي؛ أنّ أبا هريرة أخبره؛ أنّ ناسا قالوا لرسول الله صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله! هل نرى ربنا
يوم القيامة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “هل تضارونّ في رؤية القمر ليلة البدر؟” قالوا: لا. يا رسول الله! قال: “هل
تضارونّ في الشّمس ليس دونها سحاب؟” قالوا: لا. يا رسول الله! قال “فإنكم ترونه كذلك. يجمع الله الناس يوم القيامة. فيقول: من
كانّ يعبد شيئا فليتبعه. فيتبع من كانّ يعبد الشّمس الشّمس. ويتبع من كانّ يعبد القمر القمر. ويتبع من كانّ يعبد الطواغيت
الطواغيت. وتبقى هذه الأمة فيها منافقوها. فيأتيهم الله، تبارك وتعالى، في صورة غير صورته التي يعرفونّ. فيقول: أنا ربكم.
فيقولونّ: نعوذ بالله منك. هذا مكاننا حتى يأتينا ربنا. فإذا جاء ربنا عرفناه. فيأتيهم الله تعالى في صورته التي يعرفونّ. فيقول: أنا
ربكم. فيقولونّ: أنت ربنا. فيتبعونه. ويضرب الصّراط بين ظهري جهنم. فأكونّ أنا وأمتي أول من يجيز. ولا يتكلم يومئذ إلا الرسل.
ودعوى الرسل يومئذ: اللهم! سلم، سلم. وفي جهنم كلاليب مثل شوك السعدانّ. هل رأيتم السعدانّ؟” قالوا: نعم. يا رسول الله! قال:
“فإنها مثل شوك السعدانّ. غير أنه لا يعلم ما قدر عظمها إلا الله. تخطف الناس بأعمالهم. فمنم المؤمن بقي بعمله. ومنهم المجازى
حتى ينجى. حتى إذا فرغ الله من القضاء بين العباد، وأراد أنّ يخرج برحمته من أراد من أهل النار، أمر الملائكة أنّ يخرجوا من
النار من كانّ لا يشّرك بالله شيئا، ممن أراد الله تعالى أنّ يرحمه، ممن يقول: لا إله إلا الله. فيعرفونهم في النار. يعرفونهم بأثر
السجود. تأكل النار من ابن آدم إلا أثر السجود. حرم الله على النار أنّ تأكل أثر السجود. فيخرجونّ من النار وقد امتحشّوا. فيصّب
عليهم ماء الحياة. فينبتونّ منه كما تنبت الحبة في حميل السيل. ثم يفرغ الله تعالى من القضاء بين العباد. ويبقى رجل مقبل بوجهه
على النار. وهو آخر أهل الجنة دخولا الجنة. فيقول: أي رب! اصرف وجهي عن النار. فإنه قد قشّبني ريحها وأحرقني ذكاؤها.
فيدعو الله ما شاء الله أنّ يدعوه. ثم يقول الله تبارك وتعالى: هل عسيت إنّ فعلت ذلك بك أنّ تسأل غيره! فيقول: لا أسألك غيره.
ويعطي ربه من عهود ومواثيق ما شاء الله. فيصّرف الله وجهه عن النار. فإذا أقبل على الجنة ورآها سكت ما شاء الله أنّ يسكت. ثم
يقول: أي رب! قدمني إلى باب الجنة. فيقول الله له: أليس قد أعطيت عهودك ومواثيقك لا تسألني غير الذي أعطيتك. ويلك يا ابن
آدم! ما أغدرك! فيقول: أي رب! ويدعو الله حتى يقول ل: فهل عسيت إنّ أعطيتك ذلك أنّ تسأل غيره! فيقول: لا. وعزتك! فيعطي
ربه ما شاء الله من عهود ومواثيق. فيقدمه إلى باب الجنة. فإذا قام على باب الجنة انفهقت له الجنة. فرأى ما فيها من الخير
والسرور. فيسكت ما شاء الله أنّ يسكت. ثم يقول: أي رب! أدخلني الجنة. فيقول الله تبارك وتعالى له: أليس قد أعطيت عهودك
ومواثيقك أنّ لا تسأل غير ما أعطيت. ويلك يا ابن آدم! ما أغدرك! فيقول: أي رب! لا أكونّ أشقى خلقك. فلا يزال يدعو الله حتى
يضحك الله تبارك وتعالى منه. فإذا ضحك الله منه، قال: ادخل الجنة. فإذا دخلها قال الله له: تمنه. فيسأل ربه ويتمنى. حتى إنّ الله
ليذكره من كذا وكذا، حتى إذا انقطعت به الأماني. قال الله تعالى: ذلك لك ومثله معه”. قال عطاء بن يزيد: وأبو سعيد الخدري مع أبي
هريرة لا يرد عليه من حديثه شيئا. حتى إذا حدث أبو هريرة: إنّ الله قال لذلك الرجل: ومثله معه. قال أبو سعيد: أشهد أني حفظت
من رسول الله صلى الله عليه وسلم قوله: ذلك لك وعشّرة أمثاله. قال أبو هريرة: وذلك الرجل آخر أهل الجنة دخولا الجنة.
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rosululloh SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, “Wahai Rosululloh! Apakah kita bisa melihat Alloh pada hari kiamat nanti?” Rosululloh menjawab, “Apakah penglihatan kalian terhalangi ketika melihat bulan pada malam purnama? Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rosululloh.” Beliau bertanya lagi, “Apakah penglihatan kalian terhalangi ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab, “Tidak!” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan melihat Alloh seperti itu.” Alloh akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat, lalu Dia berfirman, “Barang siapa yang menyembah sesuatu maka ikutlah bersamanya.” Kemudian penyembah matahari mengikuti matahari, penyembah bulan mengikuti bulan, penyembah berhala mengikuti berhala, dan tinggal umat ini yang
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
55
terdapat di dalamnya kelompok orang munafik. Lalu Alloh Ta’ala mendatangi mereka bukan dalam rupa yang mereka kenali, kemudian Dia berfirman, “Aku adalah Robbmu.” Mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Alloh dari Mu, kami akan tetap di tempat kami sehingga Robb kami datang kepada kami. Kalau Robb kami datang, kami pasti mengenal-Nya.” Kemudian Alloh SUBHANAHU WA TA’ALA datang kepada mereka dengan rupa yang mereka kenal, lalu berfirman, “Aku adalah Robbmu.” Mereka menjawab, “Engkaulah Robb kami, maka mereka mengikuti-Nya.” Kemudian As-Sirath dibentangkan di atas neraka Jahannam lalu aku dan umatku adalah orang pertama yang melintasinya. Pada hari itu tidak ada yang (memiliki hak) bicara kecuali para Rosul. Dan doa para Rosul pada hari itu adalah, “Ya Alloh berikanlah keselamatan, berikanlah keselamatan. ” Di dalam neraka Jahannam terdapat besi tajam seperti duri as-sa’dan. “Tahukah kalian as-sa’dan itu?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rosululloh.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya besi tersebut seperti duri as-sa’dan hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Alloh. Besi itu akan menyambar manusia sesuai perbuatan mereka, di antara mereka ada yang celaka karena amalnya, dan sebagian mereka ada yang bisa melintasinya hingga selamat. Sehingga ketika Alloh selesai menghukumi hamba-hamba-Nya dan dengan rahmat-Nya, Dia berkehendak mengeluarkan orang yang dikehendaki-Nya dari penghuni neraka. Dia memerintahkan para malaikat agar mengeluarkan penghuni neraka yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun, yang tergolong orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk diberikan rahmat, (yaitu) orang yang mengucapkan, Laa Ilaaha Ilallohu. Para malaikat mengenali mereka di dalam neraka melalui tanda bekas sujud (atsarus-sujud) di keningnya. Api neraka melalap seluruh tubuh manusia kecuali bekas sujudnya, karena Alloh melarang api neraka membakar bekas sujudnya. Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka dan mereka telah hangus, lalu mereka disiram dengan air kehidupan sehingga mereka tumbuh segar sebagaimana biji-bijian tumbuh di tanah yang dialiri air. Setelah Alloh selesai menghakimi para hamba-Nya, tinggalloh seorang sedang menghadap ke neraka dan dia adalah calon penghuni surga yang masuk paling akhir. Lalu ia berkata, “Wahai Robb! Palingkanlah wajahku dari neraka, karena uap neraka meracuniku dan kobaran apinya membakarku.” Lalu orang itu memohon kepada Alloh dengan doa yang Alloh kehendaki, kemudian Alloh SUBHANAHU WA TA’ALA bertanya kepadanya, “Jika Aku kabulkan permintaanmu itu apakah kamu ingin meminta yang lainnya?” Orang itu menjawab, “Tidak, aku tidak meminta kepada Mu yang lainnya.” Kemudian Alloh memberinya apa yang Dia kehendaki dengan (berpegang) pada janji-janjinya. Lalu Alloh memalingkannya dari neraka. Maka tatkala orang itu sampai di surga dan melihatnya, atas izin Alloh ia terdiam, lalu dia berkata, “Wahai Robbku! Dekatkanlah saya ke pintu surga.” Alloh berseru kepadanya, “Tidakkah kamu telah memberikan janji-janji untuk tidak meminta kembali kepada-Ku selain apa yang telah Aku berikan kepadamu? Celakalah kamu wahai Manusia! mengapa kamu mengingkari janji?” Kemudian orang itu berkata, “Wahai Robbku!” dan orang itu memohon kepada Alloh sehingga Alloh berfiman kepadanya, “Jika Aku mengabulkan permintaanmu, apakah kamu ingin meminta yang lain lagi?” Orang itu menjawab, “Demi keagungan-Mu, aku tidak meminta yang lainnya.” Maka Alloh memberikan orang itu apa yang Dia kehendaki dengan janji-janjinya, lalu Alloh mendekatkannya ke pintu surga. Ketika ia berdiri di pintu surga, telah tampak di hadapannya keluasan surga, ia menyaksikan kenikmatan dan kebahagiaan dalam surga, lalu atas kehendak Alloh ia terdiam, kemudian dia berkata, “Ya Robbku! Masukkanlah saya ke dalam surga.” Kemudian Alloh berseru padanya, “Tidakkah kamu telah berjanji untuk tidak meminta selain apa yang telah Aku berikan padamu? Celakalah kamu manusia, mengapa kamu mengingkari janji?” Kemudian orang itu berkata, “Ya Robb, saya bukanlah makhluk-Mu yang paling celaka.” Orang itu selalu berdoa kepada Alloh sehingga Alloh SUBHANAHU WA TA’ALA tertawa karenanya dan ketika Alloh tertawa, Alloh berseru,
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
56
“Masuklah kamu ke surga.” Ketika orang itu masuk ke surga, Alloh berseru kepadanya, “Berharaplah”, kemudian orang itu meminta kepada Alloh dan berharap, sehingga Alloh mengatakannya tentang ini dan itu, maka tatkala harapannya putus, Alloh SUBHANAHU WA TA’ALA berfirman, “Itu adalah bagianmu, dengan ditambah satu lagi seperti itu.” Atho’ bin Yazid berkata, Abu Sa’id Al Khudri tidak menolak hadits Abu Hurairoh ini, bahkan ketika Abu Hurairoh menuturkan bahwa Alah SUBHANAHU WA TA’ALA berseru kepada orang tersebut, “Wa Mitsluhu ma’ahuu” Menurut Abu Sai’id bunyinya adalah, “Wa Asyaratu amtsaalihii ma’ahuu (dan ditambah lagi sepuluh kali lipat) wahai Abu Hurairoh.” Kata Abu Hurairoh, “Saya tidak ingat atau hafal dalam hadits ini kecuali seruan Alloh SUBHANAHU WA TA’ALA yang berbunyi Dzaalika laka wa mitsluhu ma’ahu (itu adalah untukmu dan ditambah satu kali lipat).” Kata Sa’id saya bersaksi bahwasanya saya menghafal sabda Rosululloh SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM yang berbunyi, Dzaalika laka wa ‘asyratu amtsaalihi (itu adalah untukmu dan ditambah lagi sepuluh kali lipat yang sepertinya)” Kata Abu Hurairoh, “Orang itulah penghuni surga yang masuk paling akhir.” {Muslim 1/112-114}
كنا جلوسا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنظر إلى القمر « : في الصّحيحين عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال
ليلة أربع عشّرة فقال: ” إنكم سترونّ ربكم عيانا كما ترونّ هذا، لا تضامونّ في رؤيته، فإنّ استطعتم أنّ لا تغلبوا على صلاة قبل
. ) 5554 ( ومسلم )مساجد / 144 ،575 ، رواه البخاري ) 555 » طلوع الشّمس وصلاة قبل غروبها فافعلوا
Di dalam shohihain dari Jarir bin Abdulloh RodhiyAllohu ‘Anhu: Ketika kami sedang duduk di samping Rosululloh ShollAllohu ‘Alaihi Wasallam ،tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihat-Nya. Maka jika kalian mampu, janganlah kalian lalai untuk melakukan sholat
sebelum terbit Matahari dan sebelum terbenam Matahari, yaitu sholat Asar dan Subuh”. Kemudian Jarir membaca firman Alloh “Dan bertasbihlah dengan memuji Robb-mu sebelum terbit dan terbenam matahari”. ))HR. Bukhori (554 ،573 ،4851. )HR. Muslim ) )مساجد / 211
68) Kami beriman bahwa nikmat terbesar di surga adalah melihat wajah Alloh ta’ala dan mendapatkan ridhoNya.








“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robbnyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَخَ أَلْ الْجَنَةِ الْجَنَةَ قَالَ يَقُوّلُ الهُ e تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيّْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَّقُوّلُوّنَ أَلَمْ تُبَيِّ وُجُوّلَنَا أَلَمْ
تُدْخِلْنَا الْجَنَةَ وَتُنَجِنَا مِنَ النَارِ قَالَ فَيَّكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَّا أُعْطُّوّا شَيّْئًا أَحَ إِلَيّْهِمْ مِنَ النَظَرِ إِلَى رَبِهِمْ عَزَ وَجَ )صحيّح
مسلم باب :باب إثبات رؤية المّؤمنيّن في الآخرة ربهم سبحانه )كتاب :كتاب الإيمّان (( رقم الحديث : : الجزء 1
الصّفحة : 163
“Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Alloh Taala berfirman: ”Apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan Aku tambahkan?”. Mereka berkata: “Bukankah Engkau telah memutihkan muka kami dan memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”. Kemudian Alloh membuka tabir, dan tidak ada sesuatu yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai dari pada melihat Robbnya Yang Maha Tinggi. [HR.Muslim bab penetapan melihatnya mu’minin di akhirat kepada robbNya subhanah, dari Shuhaib rodhiallohu ‘anhu]
هذه عقيدتنا مع دلاإلها
57
69) Kami beriman bahwa penduduk surga akan kekal di dalam surga dan begitu pula penduduk neraka yang kafir akan kekal di dalam neraka.



































“Itulah hududnya(hukumnya) Alloh. Barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. Dan Barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Annisaa’: 13-14)
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ
كَبْشٍ أَمْلَ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشّْرَئِبُوْنَّ وَيَنْظُرُوْنَّ، فَيَقًُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَّ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَّ : نَعَمْ، هَذَا
الْمَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشّْرَئِبُوْنَّ وَيَنْظُرُوْنَّ , فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَّ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَّ :
نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ
فَلاَ مَوْتَ، ثُمَّ قَرَأَ ( وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَّ( وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا
Dari Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman (QS. maryam: 39)). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia. (Diriwayatkan: Bukhori 4730, 6549, Muslim 2849, Ahmad 3/9, Tirmidzi 3156, Nasai dalam Sunan Kubra 11316, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 4366 dan Ma’alim Tanzil 1/232, al-Ajurri dalam asy-Syari’ah 944, Abu Nuaim dalam Hilyah Auliya’ 8/184, ath-Thobari dalam Jamiul Bayan 16/87, al-Baihaqi dalam al-Ba’tsu wa Nusyur 640, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhob 912.)
Semoga Alloh ta’ala mematikan kita diatas ‘aqidah yang shohih, walhamdulillaahi robbil’aalamiin,
Selesai kamis 30 safar 1435, Makassar
Al faqiir ilallooh Abu Ibrohim Sa’iid bin Salim Al Makassary

Download di https://app.box.net/s/f4gam4gaclkuqp06jfqc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s